— Popularitas mobil hybrid terus meningkat seiring dorongan menuju kendaraan yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Namun, di balik tren tersebut, masih banyak pemilik yang belum memahami bahwa setiap jenis hybrid memiliki cara kerja yang berbeda, termasuk soal kemampuan melaju tanpa bensin. Perbedaan teknis inilah yang sering menjadi sumber salah kaprah, terutama ketika masyarakat menyamakan mild hybrid, full hybrid, dan plug-in hybrid sebagai teknologi yang fungsinya serupa. Menurut Yusuf, Product Manager Chery, perbedaan paling mendasar ada pada porsi kerja mesin dan motor listrik dalam menggerakkan kendaraan. “Setiap jenis hybrid punya karakter teknis yang berbeda. Ada yang motor listriknya hanya membantu, ada yang bisa jalan sebentar tanpa bensin, dan ada juga yang memang dirancang bisa menempuh jarak jauh pakai listrik,” ujarnya kepada Kompas.com belum lama ini. Yusuf menjelaskan bahwa pada mild hybrid, motor listrik hanya berfungsi sebagai asisten tenaga. Suzuki Ertiga Hybrid Cruise meluncur di IIMAS 2024 Sistem ini membantu akselerasi, mengurangi beban mesin, dan meningkatkan efisiensi, tetapi tidak dapat menggerakkan mobil sepenuhnya. Artinya, mobil tetap membutuhkan bensin setiap saat karena mesin pembakaran internal adalah sumber tenaga utama. Sementara itu, full hybrid memiliki konfigurasi yang lebih kompleks. Motor listriknya bisa menggerakkan mobil tanpa bantuan mesin, tetapi hanya dalam jarak pendek, sekitar 1–5 km. Keterbatasan ini disebabkan oleh ukuran baterai yang relatif kecil, sehingga energi listrik tidak dirancang untuk perjalanan jauh. Wuling Cortez Darion PHEV Sistem ini ideal untuk kondisi kota yang banyak setop-and-go, karena bisa mematikan mesin di kecepatan rendah. Yusuf menambahkan bahwa plug-in hybrid (PHEV) berada di tingkat paling tinggi karena dilengkapi baterai berkapasitas besar dan soket charger. “PHEV bisa berjalan puluhan kilometer hanya dengan listrik. Kalau rutenya dekat, pengguna bahkan bisa sehari-hari tanpa mengonsumsi bensin,” katanya. Meski demikian, jika bensin benar-benar habis, sistem kontrol kendaraan otomatis akan membatasi performa demi melindungi mesin dan transmisi, karena seluruh beban berpindah ke motor listrik. Dengan memahami perbedaan teknis ini, pengguna bisa memilih jenis hybrid yang paling sesuai dengan kebutuhan. Mild hybrid cocok untuk mereka yang ingin efisiensi tanpa perubahan gaya berkendara, full hybrid menawarkan keseimbangan antara mesin dan listrik, sementara PHEV memberi fleksibilitas maksimal bagi pengguna yang sering berkendara jarak pendek namun tetap membutuhkan mesin untuk perjalanan jauh. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.