Setelah resmi meluncurkan Veloz Hybrid di segmen Low MPV, muncul pertanyaan apakah teknologi hibrida Toyota ke depan bisa turun ke segmen yang lebih bawah, yakni Low Cost Green Car (LCGC). Mengingat segmen LCGC memiliki banyak peminat, langkah ini tentu menarik untuk mobil kelas entry level karena teknologi hybrid akan membuat konsumsi bahan bakar lebih efisien. Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Nandi Julyanto, memberi gambaran bahwa adopsi teknologi hybrid di segmen LCGC tidak sesederhana menurunkan mesin yang sudah ada. Toyota Calya 1.2 G AT di GIIAS 2023 "Sebenarnya bukan masalah efektif atau tidak efektif, ya. Kalau LCGC itu kan sangat sensitif harga, itu saja," kata Nandi yang ditemui saat peluncuran Veloz Hybrid di Tangerang, Banten, pekan lalu. "Nah, kalau kita tambahkan dengan hybrid, itu kan pasti harganya naiknya lumayan. Nah, itu ada yang beli tidak? Pertanyaannya kan gitu. Persepsi konsumen itu di posisi harganya di mana. Value for money-nya seperti apa," kata Nandi. Adapun LCGC selama ini dikenal sebagai mobil dengan efisiensi bahan bakar yang sangat baik berkat bobot ringan dan mesin kecil. Artinya, tanpa teknologi hybrid, konsumsi BBM tetap irit. Toyota Veloz Hybrid Sebab, syarat minimal konsumsi bahan bakar yang harus diraih adalah 20 km per liter. Syarat lainnya, menurut Peraturan Menteri Perindustrian No. 33/M-IND/PER/7/2013, mobil-mobil LCGC hanya boleh diisi dengan BBM dengan minimal RON 92. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.