Seiring meningkatnya kesadaran terhadap efisiensi bahan bakar dan isu lingkungan, mobil hybrid semakin diminati masyarakat Indonesia. Teknologi ini dianggap menjadi jembatan menuju era elektrifikasi penuh karena mampu menggabungkan tenaga mesin bensin dan motor listrik secara bersamaan. Pakar otomotif dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Jayan Sentanuhady, menjelaskan bahwa secara umum ada tiga jenis teknologi hybrid yang saat ini banyak digunakan produsen mobil, yaitu Full Hybrid, Mild Hybrid, dan Plug-in Hybrid (PHEV). Ketiganya memiliki karakteristik serta tingkat efisiensi yang berbeda. Full Hybrid “Full Hybrid adalah mobil dengan teknologi ini dapat berjalan menggunakan motor listrik saja, mesin bensin, atau kombinasi keduanya,” ucapya kepada Kompas.com, Kamis (6/11/2025). Daihatsu Rocky Hybrid Ia melanjutkan, ketika kecepatan rendah atau dalam kondisi macet, mobil bisa beroperasi hanya dengan tenaga listrik, sehingga konsumsi bahan bakar lebih hemat. Mild Hybrid Mild Hybrid memiliki sistem yang lebih sederhana. Motor listrik pada tipe ini tidak bisa menggerakkan roda secara mandiri, melainkan hanya membantu mesin utama agar bekerja lebih efisien. “Pada sistem ini, motor listrik tidak bisa menggerakkan roda secara mandiri. Fungsinya hanya sebagai pendukung mesin utama, seperti saat akselerasi atau saat sistem start-stop aktif,” kata Jayan. Efisiensi mild hybrid lebih rendah dibanding full hybrid, tapi struktur mekanisnya lebih sederhana dan harganya lebih terjangkau. Plug-in Hybrid (PHEV) Sementara itu, teknologi Plug-in Hybrid (PHEV) merupakan bentuk evolusi lanjutan dari sistem hybrid. “Teknologi ini memiliki baterai berkapasitas lebih besar yang bisa diisi ulang menggunakan sumber listrik eksternal. Mobil dapat melaju dengan tenaga listrik sepenuhnya dalam jarak yang cukup jauh (hingga puluhan kilometer), sebelum mesin bensin aktif,” katanya. Secara keseluruhan, ketiga jenis mobil hybrid, Full Hybrid, Mild Hybrid, dan Plug-in Hybrid memiliki tujuan sama, yaitu meningkatkan efisiensi bahan bakar dan menekan emisi. Bedanya hanya pada cara kerja dan kapasitas sistem listriknya, sehingga konsumen bisa memilih sesuai kebutuhan dan pola berkendara. Jadi, bagi pengguna di perkotaan yang banyak stop-and-go, Full Hybrid bisa jadi pilihan efisien. Tapi untuk yang ingin transisi ke mobil listrik penuh tanpa khawatir jarak tempuh, PHEV lebih ideal. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.