Mobil listrik murni (BEV) atau mobil hybrid (HEV) kerap menjadi pertimbangan konsumen dalam membeli mobil. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bagi konsumen, sebaiknya tidak hanya mengikuti tren yang sedang terjadi. Namun, perlu jujur dengan kebutuhan dan fasilitas yang tersedia. Rasyid, Sales Consultant Chery Solo mengatakan saat dihadapkan antara BEV atau HEV konsumen harus memperhatikan dengan kesiapan fasilitas dan kebutuhan. “Jujur untuk di daerah, seperti Jawa Tengah lebih cocok mobil hybrid, alasannya karena keberadaan SPKLU belum merata, sehingga pemilik mobil listrik harus punya charger sendiri di rumah, atau ada di kantor,” ucap Rasyid kepada KOMPAS.com, belum lama ini. Ketika mobil listrik kehabisan energi, sementara lalu lintas kondisinya macet, akan cukup merepotkan bila keberadaan SPKLU belum sebanyak SPBU. Chery J6 di Chery Solo Selain itu, harga jual kembali mobil listrik bisa turun drastis, bukan karena kualitasnya jelek tapi semakin banyaknya pilihan mobil baru dengan spesifikasi yang lebih canggih dan murah. “Bila konsumen beli mobil dengan niat investasi, sebaiknya pilih HEV untuk saat ini, itu akan membuat konsumen terhindar dari risiko depresiasi,” ucap Rasyid. Sujaka, Area Manager Area 3 dan Branch Manager Nasmoco Slamet Riyadi mengatakan mobil listrik lebih cocok dipakai hanya di perkotaan besar dengan jumlah SPKLU yang merata. “Bila konsumen masih harus mudik pakai mobil tersebut, saya lebih menyarankan pakai hybrid yang memiliki fitur self-charging, ini akan lebih aman,” ucap Jaka kepada KOMPAS.com, Jumat (9/1/2026). BEV cocok bila mayoritas dipakai dalam kota, ada charger di rumah atau kantor, jarak harian relatif terprediksi dan mencari mobil senyap dan minim perawatan. Tampilan layar display (MID) New Veloz Hybrid Selain itu punya keistimewaan seperti bebas ganjil-genap dan pajaknya murah. “Tapi kalau infrastruktur charger belum merata, waktu mengisi daya lebih lama, sering keluar kota seperti mudik, HEV sebaiknya dipertimbangkan,” ucap Jaka. Meski masih perlu beli BBM, mobil HEV tetap lebih irit terutama di jalan macet. Selain itu konsumen tidak ketergantungan dengan SPKLU, sehingga perjalanan lebih fleksibel untuk segala rute. “Harga jual kembali HEV relatif lebih baik, daripada mobil listrik (BEV) sejauh ini, khususnya bila berkaca pada kompetitor, atas dasar itu juga saat ini Toyota Indonesia lebih banyak produk HEV daripada BEV, ” ucap Jaka. Jadi, konsumen perlu memeprtimbangkan infrastruktur yang ada di sekitar sebelum memutuskan beli BEV. Bila memang SPKLU belum merata akan lebih aman dan nyaan memilih HEV. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang