Toyota banyak mengandalkan teknologi hybrid pada line up terbarunya bukan tanpa alasan. Teknologi ini dianggap sebagai solusi paling realistis untuk transisi menuju kendaraan ramah lingkungan. Teknologi hybrid hadir menawarkan efisiensi, tanpa mengorbankan kemudahan penggunanya. Maka dari itu Toyota memiliki banyak produk dengan teknologi hybrid seperti Veloz, Vios, Yaris Cross dan Alphard. Jodjana Jody, Vice President Director Nasmoco Group mengatakan Toyota bukan anti dengan mobil listrik murni, tapi mereka percaya teknologi terbarukan meliputi banyak jalan dan membutuhkan waktu. “Tantangannya dari waktu ke waktu tak sama, sementara di Indonesia saat ini, dengan fasilitas stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) terbatas dan belum merata, ada kekhawatiran sulit mengecas dari masyarakat,” ucap Jody di Yogyakarta, Rabu (18/2/2026). Di banyak wilayah dunia, termasuk Asia Tenggara, stasiun pengisian kendaraan listrik masih terbatas. Hybrid bisa langsung dipakai tanpa menunggu pembangunan infrastruktur besar. Toyota percaya tidak ada satu solusi untuk semua negara. Selain hybrid, mereka juga mengembangkan listrik murni, hidrogen, dan teknologi lain. Namun hybrid dianggap paling siap diproduksi massal sekarang. New Veloz Hybrid jadi produk andalan Toyota di Jawa Tengah dan Yogyakarta. “Kami bukan anti mobil listrik murni, kami punya BZ4x dan Urban Cruiser, tapi kami menyediakan produk membaca dari kebutuhan konsumen, seperti mobil listrik yang bisa mengecas secara mandiri,” ucap Jody. Hybrid menggabungkan mesin bensin dan motor listrik, sehingga konsumsi bahan bakar jauh lebih irit dibanding mobil konvensional. Berbeda dengan mobil listrik murni, hybrid tidak perlu dicas dari luar, cocok untuk negara yang infrastruktur charging-nya belum merata seperti Indonesia. Toyota melihat hybrid sebagai langkah tengah sebelum kendaraan listrik murni benar-benar siap secara global. Emisi gas buang berkurang signifikan tanpa mengubah kebiasaan pengguna. Baterai mobil hybrid Toyota “Mobil listrik murni butuh baterai besar yang mahal. Hybrid memakai baterai lebih kecil, sehingga biaya produksi dan risiko penurunan performa baterai lebih terkendali, seperti di Veloz hybrid baterainya hanya 700 watt,” ucap Jody. Sejak meluncurkan Toyota Prius pada 1997, Toyota sudah sangat matang dalam teknologi hybrid dan menjadikannya keunggulan kompetitif. Kesimpulannya, Toyota memilih hybrid karena paling realistis, efisien, dan mudah diterima pasar global saat ini, terutama di negara berkembang. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang