Pebalap Williams Racing, Carlos Sainz, memanfaatkan waktu senggang sebelum kembali menjalani balapan Formula 1 dengan menikmati suasana Langkawi, Malaysia. Sainz bersama sejumlah pebalap F1 lainnya memilih singgah di Langkawi sebelum menuju Sepang untuk menghadapi Grand Prix Bahrain 2026 yang digelar di Sirkuit Internasional Sepang. Alih-alih langsung terbang dari Baku, Azerbaijan, menuju Kuala Lumpur, Sainz justru mengajak beberapa pebalap untuk menghabiskan waktu beberapa hari di pulau yang berada di barat laut Malaysia tersebut. Ide itu muncul ketika para pebalap sedang mengatur perjalanan setelah GP Azerbaijan. Sainz kemudian mencari sebuah hotel di Langkawi dan menawarkan agar mereka menghabiskan waktu bersama di sana. “Saya melihat ada beberapa pebalap yang mencoba mendapatkan penerbangan dari Baku ke Malaysia pada Sabtu malam. Daripada langsung terbang ke Kuala Lumpur, saya menawarkan, ‘Kenapa kita tidak pergi ke tempat lain saja?’” ujar Sainz, dikutip dari laman resmi Formula 1. Sainz akhirnya menemukan sebuah resor di pulau tersebut yang menurutnya cocok untuk menghabiskan waktu sekitar empat sampai lima hari. Tempat tersebut juga memiliki fasilitas olahraga seperti gym dan aktivitas bersepeda yang bisa dimanfaatkan para pebalap untuk tetap menjaga kebugaran sebelum balapan. “Kami semua naik pesawat itu pada Sabtu malam dan terbang langsung dari Baku ke Langkawi. Mungkin belum pernah ada orang yang terbang dari Baku ke Langkawi. Ini penerbangan paling acak yang pernah ada,” kata Sainz. Momen pebalap F1 berlibur di Langkawi Sainz Nikmati Langkawi Bersama Pebalap F1 Selama berada di Langkawi, Sainz tidak hanya menghabiskan waktu untuk latihan. Para pebalap juga berkeliling menikmati suasana pulau dan melakukan sejumlah aktivitas bersama. Sainz ditemani Alex Albon, George Russell, Oscar Piastri, Ollie Bearman, dan Gabriel Bortoleto. Mantan pebalap F1 Roberto Merhi juga turut bergabung dalam perjalanan tersebut. Momen mereka selama berada di Langkawi kemudian dibagikan ke media sosial. Mulai dari berfoto di sekitar pulau, bersepeda, hingga bermain gokart. Russell bahkan membagikan sejumlah foto perjalanan tersebut yang memperlihatkan para pebalap menikmati suasana Langkawi. Salah satunya ketika mereka berada di sekitar air terjun. Sainz juga membawa rombongan untuk mencoba gokart di salah satu trek lokal di Langkawi. Namun, aktivitas yang awalnya terlihat seperti hiburan tersebut justru berubah menjadi persaingan serius. Russell menyebut balapan gokart itu berlangsung cukup brutal. Bortoleto bahkan mengalami memar di bagian punggung, sedangkan Piastri hampir mengalami cedera pada tulang rusuk. Sainz Sebut Langkawi Jadi Eksperimen Sosial Bagi Sainz, perjalanan singkat ke Langkawi bukan sekadar liburan sebelum balapan. Pebalap asal Spanyol tersebut mengatakan kesempatan itu membuatnya bisa mengenal lebih dekat para rival yang selama ini hanya ditemui dalam suasana kompetisi di lintasan. Menurut Sainz, jadwal Formula 1 yang sangat padat membuat para pebalap jarang memiliki kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama tanpa tekanan balapan. “Biasanya pada akhir pekan balapan, kami tidak pernah bertemu satu sama lain. Kami semua punya kesibukan masing-masing, jadi sangat jarang bisa benar-benar menghabiskan waktu bersama,” ujar Sainz. Ia bahkan menyebut berkumpulnya tujuh pebalap di sebuah pulau sebagai semacam eksperimen sosial. “Pulau yang kami datangi cukup menyenangkan karena ukurannya kecil. Kemudian Anda menempatkan tujuh pebalap di sebuah pulau dan melihat apa yang akhirnya mereka lakukan. Ini benar-benar seperti eksperimen sosial,” kata Sainz. Menurut Sainz, empat hari di Langkawi membuatnya mengenal sisi lain dari rekan-rekannya yang selama ini menjadi rival di lintasan. Setelah menikmati beberapa hari di Langkawi, Sainz dan para pebalap lainnya kemudian melanjutkan perjalanan ke Sepang untuk menghadapi akhir pekan balapan F1. Perjalanan tersebut sekaligus menjadi persiapan fisik sebelum menghadapi kondisi panas dan lembap yang menjadi tantangan di Malaysia. Eric Saputra dari Cargloss Racing meraih kemenangan perdana di OMR Agya Sirkuit Mandalika, Lombok, Sabtu (14/6/2026). Kenapa F1 tidak digelar di Indonesia? Momen Carlos Sainz menikmati Langkawi bersama sejumlah pebalap Formula 1 menjadi salah satu cerita menarik jelang balapan di Sepang. Menariknya, keberadaan F1 di Malaysia juga kembali memunculkan pertanyaan soal Indonesia. Sama-sama berada di Asia Tenggara dan sama-sama memiliki sirkuit internasional, kenapa F1 bisa kembali digelar di Malaysia sementara Indonesia belum? Jawabannya bukan semata soal Indonesia belum memiliki sirkuit yang mumpuni. Salah satu perbedaan paling mendasar ada pada homologasi. Sepang International Circuit sudah mengantongi lisensi FIA Grade 1, level yang dibutuhkan untuk menggelar Formula 1. Sementara Mandalika, yang menjadi tuan rumah MotoGP Indonesia, saat ini tercatat memiliki lisensi FIA Grade 2 untuk balap mobil. Mandalika memang sudah memiliki homologasi Grade A dari FIM untuk MotoGP. Namun, standar homologasi balap motor dan mobil berbeda. Karena itu, keberhasilan Mandalika menggelar MotoGP belum otomatis membuat sirkuit tersebut bisa digunakan untuk Formula 1.