Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dapat mendorong masyarakat untuk mulai mempertimbangkan kendaraan yang lebih hemat energi. Namun, tidak semua konsumen siap langsung beralih ke kendaraan listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV). Faktor harga kendaraan, infrastruktur pengisian daya, hingga kebutuhan mobilitas menjadi sejumlah pertimbangan. Dalam kondisi tersebut, kendaraan hybrid atau hybrid electric vehicle (HEV) dapat menjadi salah satu pilihan transisi sebelum konsumen sepenuhnya beralih ke kendaraan listrik. Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, mengatakan HEV memiliki posisi kuat sebagai teknologi transisi karena menawarkan efisiensi tanpa bergantung sepenuhnya pada infrastruktur pengisian daya. Mobil Hybrid Toyota "Bagi konsumen yang belum siap sepenuhnya menggunakan BEV, HEV masih mempunyai posisi kuat sebagai teknologi transisi," ucap Yannes kepada Kompas.com, Jumat (4/9/2026). Menurut Yannes, pilihan antara HEV dan BEV tetap bergantung pada kondisi serta kebutuhan masing-masing konsumen. “Karena HEV menawarkan efisiensi tanpa ketergantungan penuh pada infrastruktur charging,” ucapnya. Bagi pengguna yang belum siap dengan pola penggunaan kendaraan listrik, HEV dapat menjadi alternatif karena masih mengandalkan mesin pembakaran internal sekaligus memanfaatkan sistem elektrifikasi. Jadi, kenaikan harga BBM tidak hanya dapat meningkatkan minat terhadap BEV, tetapi juga membuka peluang bagi kendaraan hybrid sebagai pilihan bagi konsumen. “Harga BBM dapat mempercepat momentum elektrifikasi, tetapi kecepatan adopsinya tetap ditentukan oleh harga kendaraan, pembiayaan, infrastruktur, dan karakteristik aktivitas mobilitas masing-masing pengguna,” ucapnya.