Pengguna yang sebelumnya memakai mobil bensin mulai merasakan biaya energi hingga perawatan lebih ringan setelah beralih ke kendaraan listrik. Namun, jarak tempuh dan cara pengisian daya ikut menentukan besarnya penghematan. Bagi pemilik yang menempuh jarak cukup jauh, pengeluaran untuk energi menjadi salah satu pos yang paling cepat terlihat perbedaannya. Uang yang sebelumnya rutin dikeluarkan untuk membeli bahan bakar kini beralih menjadi biaya pengisian daya. Vemri Ardhika, pemilik Wuling Eksion, menjadi salah satu pengguna yang merasakan perubahan tersebut. Sebelum menggunakan mobil listrik, Vemri mengandalkan Toyota Fortuner untuk kebutuhan sehari-hari. Wuling Eksion milik Vemri Ardhika Handoyo. Menurut dia, biaya energi yang dikeluarkan setelah menggunakan mobil listrik jauh lebih rendah dibandingkan ketika masih menggunakan mobil bermesin diesel. “Sekarang sekitar Rp 120.000 per minggu. Kalau Fortuner, untuk solar sekitar Rp 400.000 per minggu,” ucapnya kepada Kompas.com, belum lama ini. Artinya, berdasarkan pengeluaran tersebut, biaya energi Vemri turun sekitar Rp 280.000 per minggu setelah berpindah ke mobil listrik. Jika dikalikan selama satu tahun, pengeluaran untuk energi yang sebelumnya mencapai sekitar Rp 20,8 juta dengan asumsi Rp 400.000 per minggu, turun menjadi sekitar Rp 6,2 juta dengan biaya Rp 120.000 per minggu. Namun, Vemri mengatakan pengeluaran untuk bahan bakar bisa lebih besar apabila menggunakan jenis solar tertentu. BYD Atto 1 di GIIAS 2026 “Ia juga mengatakan, sementara kalau menggunakan Dex atau Dexlite, bisa mencapai sekitar Rp 1 juta per minggu.” Pengalaman serupa dirasakan Gregy, pemilik BYD Atto 1 yang sebelumnya menggunakan Honda Freed. Perbedaannya tidak hanya terasa ketika melakukan pengisian energi. Gregy juga menghitung pajak dan biaya perawatan yang harus dikeluarkan setelah berpindah dari mobil bensin ke mobil listrik. “Kalau per bulan, dulu untuk bensin bisa sekitar Rp 1,2 juta sampai Rp 1,5 juta. Sekarang setelah menggunakan mobil listrik, pengeluarannya menjadi sekitar Rp 400.000 per bulan,” katanya kepada Kompas.com. Dengan angka tersebut, pengeluaran energi Gregy turun sekitar Rp 800.000 hingga Rp 1,1 juta setiap bulan.