Di tengah gencarnya tren elektrifikasi kendaraan, mobil listrik kerap dipersepsikan sebagai teknologi baru yang lahir dari perkembangan modern. Padahal, jika menilik sejarah otomotif, kendaraan listrik justru sudah hadir lebih dulu dibanding mobil bermesin pembakaran dalam atau internal combustion engine (ICE). Pengamat otomotif Hendra Noor Saleh menilai persepsi tersebut kurang tepat. Ia menjelaskan, pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, kendaraan listrik sudah lebih dulu dikembangkan dan bahkan sempat populer di Amerika Serikat dan Eropa. “Kalau dibilang teknologi baru itu kurang tepat. Mobil listrik itu sudah ada lebih dulu, baru kemudian mobil berbahan bakar minyak berkembang,” ujar Hendra kepada Kompas.com, Sabtu (25/4/2026). Menurut dia, perkembangan industri otomotif pada masa itu lebih banyak dipengaruhi faktor ekonomi ketimbang semata-mata teknologi. Ilustrasi mobil listrik. Penjualan kendaraan listrik telah melonjak di Asia Tenggara imbas krisi minyak yang diakibatkan oleh perang Iran di Timur Tengah. “Pada masa itu, hukum ekonomi lebih berpihak ke mobil bensin karena ditemukannya sumber minyak besar-besaran. Jadi pertumbuhan mobil ICE jauh lebih cepat,” kata dia. Sejumlah kajian juga menguatkan hal tersebut. Kajian dari IEEE bertajuk A Brief History of Electric Vehicles mencatat, kendaraan listrik mulai dikembangkan sejak 1830-an dan mencapai puncak popularitas pada awal 1900-an. Saat itu, mobil listrik diminati karena lebih senyap, mudah dioperasikan, serta tidak memerlukan engkol manual seperti mobil bensin. Namun, dominasi mobil listrik tidak berlangsung lama. Studi dari SAE International dalam The Electric Vehicle: A History menunjukkan bahwa perubahan arah industri dipicu faktor ekonomi, terutama setelah ditemukannya cadangan minyak dalam jumlah besar dan berkembangnya industri perminyakan secara global. Pergeseran semakin cepat ketika produksi massal mobil bensin dipelopori oleh Henry Ford melalui sistem lini perakitan. Metode ini membuat harga mobil jauh lebih terjangkau, sementara infrastruktur pengisian bahan bakar berkembang pesat, sehingga kendaraan berbahan bakar minyak kian mendominasi. Di sisi lain, keterbatasan teknologi baterai pada masa itu turut menjadi hambatan bagi mobil listrik. Penelitian dalam jurnal energi internasional History, Evolution, and Future of Electric Vehicles menyebutkan, jarak tempuh yang terbatas, waktu pengisian yang lama, serta bobot baterai yang berat membuat mobil listrik kalah praktis dibanding kendaraan konvensional. Lebih dari satu abad kemudian, kondisi mulai berbalik. Perkembangan teknologi baterai, meningkatnya kesadaran terhadap isu lingkungan, serta dorongan kebijakan global membuat mobil listrik kembali dilirik. Artinya, tren elektrifikasi saat ini bukanlah kemunculan teknologi baru, melainkan kebangkitan dari inovasi lama yang sempat tertinggal oleh dinamika ekonomi dan industri global. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang