Sejumlah pabrikan mobil seperti Ferrari dan BMW mulai menggunakan kabel berbahan aluminium pada mobil-mobil terbarunya. Langkah ini menandai semakin banyak produsen otomotif yang mengurangi penggunaan tembaga, material yang selama ini menjadi standar untuk sistem kelistrikan kendaraan. Sebelumnya, Tesla dan sejumlah produsen mobil listrik asal China lebih dulu menerapkan penggunaan kabel aluminium. Menurut laporan Reuters, tren tersebut diperkirakan akan memengaruhi sekitar 2 persen permintaan tembaga global pada tahun ini. Peralihan ini didorong oleh beberapa faktor. Selain harga tembaga yang terus meningkat, pasokannya juga semakin terbatas. Ferrari Luce Di sisi lain, kebutuhan tembaga melonjak karena banyak digunakan pada pembangkit energi terbarukan dan pusat data (data center). Akibatnya, banyak industri mulai mencari alternatif yang lebih ekonomis tanpa mengorbankan fungsi, salah satunya aluminium. Lebih Ringan, Lebih Murah Ferrari mengatakan mulai menggunakan kabel aluminium pada mobil sport hybrid 296 sejak tahun lalu. Kini, material tersebut juga dipakai pada Luce, mobil listrik pertama Ferrari yang meluncur bulan lalu. Menurut Ferrari, penggunaan kabel aluminium mampu memangkas bobot keseluruhan sistem kelistrikan hingga 20 persen. Pabrik mobil PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Karawang, Jawa Barat. "Kami tidak memilih aluminium karena lebih murah. Kami memilih material yang memberikan performa lebih baik," kata Dario Esposito, eksekutif komunikasi Ferrari dilansir dari Reuters, Senin (6/7/2026). Meski demikian, dari sisi biaya aluminium memang jauh lebih murah. Saat ini harga aluminium sekitar 3.100 dollar AS per ton, sedangkan harga tembaga mencapai lebih dari empat kali lipatnya. BMW bahkan telah menggunakan kabel aluminium sejak 2011 pada Seri 1. BMW memperluas penggunaan aluminium pada mobil hybrid dan mobil listrik terbaru yang menggunakan teknologi eDrive. Reuters juga melaporkan Stellantis mulai mengganti sebagian kabel tembaganya dengan aluminium, meski perusahaan belum memberikan komentar resmi. Alasan Lain Bagi mobil listrik, bobot kendaraan menjadi faktor penting. Semakin ringan kendaraan, semakin jauh jarak tempuh yang bisa dicapai dengan sekali pengisian baterai. Ilustrasi tembaga. Karena itu, penggunaan aluminium dinilai memberikan dua keuntungan sekaligus, yakni mengurangi bobot kendaraan dan menekan biaya produksi. Tak hanya produsen mobil, pemasok komponen otomotif juga mulai merasakan dampaknya. Perusahaan asal China, Jonver, mengungkapkan penjualan kabel aluminium meningkat dari sekitar 20 persen pada 2023 menjadi 30 persen dari total penjualannya tahun ini. Produsen aluminium asal Norwegia, Hydro, juga menyebut permintaan aluminium sebagai pengganti tembaga terus meningkat di berbagai sektor industri. Tembaga Meski mulai banyak digunakan, aluminium belum sepenuhnya menggantikan tembaga. Harga aluminium menembus level 3.000 dollar AS per ton untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun. Kenaikan ini dipicu oleh prospek pasokan global yang semakin ketat serta ekspektasi permintaan jangka panjang yang tetap solid. Aluminium memang lebih ringan dan lebih murah, tetapi daya hantar listriknya masih berada di bawah tembaga. Artinya, dibutuhkan ukuran kabel aluminium yang lebih besar untuk menghantarkan arus listrik yang sama. Selain itu, proses produksi aluminium juga membutuhkan energi yang lebih besar sehingga menghasilkan emisi karbon lebih tinggi. Karena itu, pada beberapa komponen yang membutuhkan konduktivitas listrik tinggi, produsen masih memilih menggunakan tembaga. Menurut perusahaan kabel Nexans, banyak produsen mulai mempertimbangkan aluminium ketika harga tembaga mencapai sekitar 3,5 kali lebih mahal. Saat ini, selisih harga tersebut bahkan sudah melebihi 4,2 kali lipat. China Paling Agresif Peralihan ke aluminium juga semakin cepat di China. Pemerintah juga mendorong industri untuk mengurangi penggunaan tembaga melalui kebijakan yang diterbitkan pada 2025. Pabrik perakitan Wuling di Liuzhou, China yang sudah berbasis AI dan robot. Sejumlah produsen mobil listrik seperti Avatr, XPeng, dan Xiaomi kini telah menggunakan kabel aluminium pada kendaraannya. Menurut Terry Woychowski, Presiden Caresoft Global, produsen otomotif China banyak menjadikan Tesla sebagai acuan. Tesla lebih dulu menggunakan kabel aluminium pada Model Y yang meluncur pada 2019, kemudian menerapkannya kembali pada Cybertruck. JPMorgan memperkirakan penggunaan aluminium sebagai pengganti tembaga akan terus meningkat. Jika saat ini baru sekitar 2 persen permintaan tembaga yang tergantikan, angkanya diprediksi bisa mencapai 6 persen pada 2030.