Program Low Cost Green Car (LCGC) yang awal kemunculannya digadang-gadang sebagai solusi mobil terjangkau dan ramah lingkungan kini dinilai telah bergeser jauh dari esensi dasar. Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu mengungkapkan bahwa LCGC di Indonesia saat ini sudah tidak lagi mencerminkan mobil yang hemat biaya (low cost) maupun benar-benar ramah lingkungan (green). "Dulu harganya mulai dari Rp 85 jutaan. Sekarang sudah menembus Rp 200 jutaan. Terjadi premiumisasi tiap tahun naik lima sampai tujuh persen tanpa alasan yang jelas, padahal inflasi dan dollar tidak naik sebesar itu," ujar Yannes di GIIAS 2026, Senin (3/8/2026). Honda Brio Satya Realita 'Green' yang Semu Selain lonjakan harga yang menggerus daya beli masyarakat, Yannes menyoroti klaim efisiensi bahan bakar LCGC konvensional yang dinilai kurang realistis dalam kondisi penggunaan harian di perkotaan. Ia mengenang saat penyusunan naskah akademik program LCGC pada 2012 lalu, di mana skema pengujian menuntut konsumsi bahan bakar 1 liter untuk 20 kilometer. Namun, angka tersebut sering kali hanya dicapai dalam kondisi pengujian buatan, seperti mematikan pendingin udara (AC) dan melaju dalam kecepatan konstan. "Prakteknya kalau dipakai normal di kota, tidak green juga. Sekarang pengujian dan standar ramah lingkungan itu harus yang riil. LCGC yang ada sekarang teknologi perubahannya hanya minor change bertahap, tapi harganya terus merambat naik," tutur Yannes. Idealnya Beralih ke Mobil Listrik Melihat kondisi tersebut, Yannes menilai sudah saatnya arah kebijakan LCGC bertransformasi penuh ke kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV). Kehadiran mobil listrik terjangkau saat ini dianggap jauh lebih ideal untuk mengisi peran LCGC modern. Selain menawarkan efisiensi biaya operasional harian yang jauh lebih murah dibanding mobil bensin, mobil listrik juga memberikan standar ramah lingkungan yang lebih nyata bagi pasar massal. "Harus riil, harus green, dan low cost. Dengan adanya kendaraan-kendaraan listrik terjangkau di segmen menengah ini, kita harapkan bisa mengangkat pasar otomotif secara lebih natural dan adil," jelasnya. VinFast VF 3 di GIIAS 2026 Baca juga: Teknologi dan TKDN Kendati demikian, Yannes mengingatkan bahwa menjadikan mobil listrik sebagai 'LCGC baru' tidak sekadar merakit atau menjual unit murah hasil impor. Pemerintah harus memastikan kesiapan ekosistem industri komponen pendukung di dalam negeri. Ia menekankan pentingnya peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang diimbangi dengan penguasaan teknologi inti. Tanpa hal tersebut, lonjakan penjualan mobil listrik hanya akan memicu aliran modal keluar (capital flight). "Jangan sampai penjualan naik tapi impor komponen ikut naik, itu artinya capital flight. Kuncinya ada di pemerintah untuk menyiapkan ekosistem industri pendukung dan transfer teknologi, bukan sekadar industri perakitan," pungkas Yannes.