Segmen motor bebek petualang belakangan ini cukup naik daun. Setelah kehadiran Honda CT125, banyak yang berharap Yamaha Indonesia ikut memboyong PG-1 untuk menjadi pesaingnya. Namun, PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) nampaknya masih enggan untuk memasarkan motor bermesin 115 cc tersebut di dalam negeri. Padahal, di Thailand dan Malaysia, motor ini cukup mendapatkan respons positif sejak peluncurannya. Rifki Maulana, Manager Public Relation Community & YRA PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM), menjelaskan bahwa pasar motor bebek di Indonesia memiliki karakter yang berbeda. Bebek trail Yamaha PG-1 meluncur di Thailand International Motor Expo 2023 Meskipun pasarnya masih ada, dominasinya tidak sekuat dulu sebelum digempur skuter matik. "PG-1 di market yang demand moped-nya tinggi. Tinggi itu masih memang bisa dibilang 50:50 lah sama skuter gitu. Itu memang hype," ujar Rifki kepada di sela-sela MAXI Tour Boemi Nusantara, Sabtu (18/4/2026). Menurut Rifki, jika melihat data secara nasional, pangsa pasar motor bebek di Indonesia saat ini sudah sangat spesifik. Untuk jajaran produk yang ada saat ini, Yamaha merasa masih bisa memenuhi kebutuhan konsumen Indonesia. "Semua moped di Indonesia itu berapa besar sih? Dari demand secara nasional yang sebesar itu, tiga unit yang masih kita punya untuk jual kita rasa masih cukup untuk kebutuhan pasar Indonesia," kata Rifki. Lebih lanjut, Rifki menekankan bahwa meluncurkan sebuah model baru bukan hanya sekadar membawa unit ke diler. Ada kalkulasi investasi yang besar di baliknya, mulai dari sisi promosi hingga pembentukan ekosistemnya. "Kita sering coba membuka pasar baru. Cuma kan memang untuk membuka segmen atau pasar baru itu dibutuhkan investasi. Investasi itu bukan hanya contoh produknya, tapi promosinya, ekosistemnya," ucapnya. Alasan utama mengapa PG-1 belum atau bahkan tidak diluncurkan di Indonesia berkaitan erat dengan hitung-hitungan bisnis. Pihak YIMM menilai potensi penjualan saat ini belum sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan. "Kenapa saat sampai saat ini PG-1 belum dimunculkan di Indonesia atau tidak diluncurkan di Indonesia, ya karena tidak sesuai secara business point of view. Investasi yang ada mungkin tidak sebanding dengan contoh plan penjualan dan sebagainya," tutur Rifki. Meski demikian, Rifki tidak menutup pintu rapat-rapat. Menurutnya, Yamaha selalu bergerak berdasarkan keinginan pasar. Jika ke depannya permintaan konsumen meningkat drastis, bukan tidak mungkin rencana tersebut berubah. "Tergantung konsumen. Semua balik ke demand konsumen," ucap dia. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang