Mobil listrik identik dengan torsi instan yang membuat kendaraan bisa berakselerasi dengan cepat sejak pedal akselerator diinjak. Pada kondisi tersebut, muncul anggapan bahwa mobil listrik dengan sistem penggerak roda belakang atau rear-wheel drive (RWD) punya keuntungan karena saat berakselerasi terjadi perpindahan bobot ke bagian belakang (weight transfer). Secara teori, kondisi tersebut membuat beban pada roda belakang bertambah sehingga ban yang menjadi penggerak bisa mendapatkan cengkeraman lebih besar untuk menyalurkan tenaga ke aspal. Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya berlaku pada mobil listrik. Pemilik Bengkel Spesialis Dokter Mobil di Jakarta, Lung Lung, mengatakan perpindahan bobot pada mobil listrik tidak terlalu besar ketika kendaraan berakselerasi. “Ini tidak benar, karena bobot tidak bergeser terlalu jauh. Mobil listrik sudah rendah center of gravity,” kata Lung Lung, kepada Kompas.com, Selasa (29/9/2026). Pusat Gravitasi Mobil Listrik Lebih Rendah Salah satu karakteristik mobil listrik adalah posisi pusat gravitasi (center of gravity) yang cenderung rendah. Hal ini tidak lepas dari posisi baterai yang umumnya ditempatkan di bagian bawah lantai kendaraan. Baterai berukuran besar dan memiliki bobot yang cukup berat sehingga membantu menempatkan massa kendaraan lebih dekat ke permukaan jalan. Dengan pusat gravitasi yang rendah, perubahan distribusi bobot ketika mobil berakselerasi juga tidak sebesar yang mungkin terjadi pada kendaraan dengan pusat gravitasi lebih tinggi. Baterai mobil listrik Toyota bZ4X Artinya, meski tetap terjadi weight transfer, efeknya tidak serta-merta membuat bagian belakang mobil mendapat tambahan beban yang sangat besar. RWD Tetap Punya Keuntungan Meski begitu, bukan berarti sistem RWD tidak memiliki keuntungan pada mobil listrik. Pada mobil RWD, tenaga dari motor listrik disalurkan langsung ke roda belakang. Ketika kendaraan berakselerasi, roda belakang memang menjadi roda yang bertugas meneruskan torsi ke permukaan jalan. Karakter ini bisa memberikan keuntungan dari sisi traksi, terutama ketika torsi besar disalurkan secara instan. Namun, keuntungan tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh perpindahan bobot yang besar ke belakang. Karakter ban, distribusi bobot kendaraan, sistem kontrol traksi, serta kemampuan motor dalam mengatur penyaluran torsi juga ikut menentukan seberapa baik mobil dapat mempertahankan cengkeraman saat berakselerasi. Terlebih pada mobil listrik modern, sistem kontrol elektronik dapat mengatur keluaran tenaga motor dengan sangat cepat untuk mencegah roda kehilangan traksi. Penggunaan sistem RWD pada mobil listrik bukan berarti otomatis membuat seluruh torsi instan lebih optimal hanya karena adanya weight transfer. Pada akhirnya, kemampuan mobil dalam menyalurkan tenaga ke aspal merupakan hasil kombinasi antara sistem penggerak, distribusi bobot, karakter ban, pusat gravitasi, serta pengaturan elektronik kendaraan.