Harga ban mobil listrik atau electric vehicle (EV) kerap menjadi sorotan karena dinilai lebih mahal dibanding ban mobil konvensional. Padahal, jika dilihat sekilas, ukuran dan bentuknya tidak jauh berbeda. Namun, ketika dibandingkan dalam merek yang sama, selisih harga tersebut menjadi lebih jelas dan menunjukkan adanya perbedaan teknologi yang cukup signifikan. Menurut Fachrul Rozi, Product Marketing Manager Michelin Indonesia, ban untuk kendaraan listrik memang dirancang dengan kebutuhan berbeda dibanding mobil biasa. “Ban EV itu harus punya load index yang lebih tinggi karena bobot kendaraan listrik lebih berat, selain itu juga harus mampu mengakomodasi torsi instan yang besar,” kata Rozi kepada Kompas.com, Sabtu (4/4/2026). Jika dilihat dalam satu merek yang sama, perbedaan harga cukup terasa. Misalnya pada lini Michelin, ban khusus EV seperti Pilot Sport EV berada di kisaran Rp 6 jutaan hingga Rp 9 jutaan per ban, tergantung ukuran. Michelin melansir ban baru Michelin Pilot Sport EV. Sementara ban konvensional seperti Primacy 4 dari merek yang sama umumnya dijual sekitar Rp 1 jutaan hingga Rp 2 jutaan per ban. Selisih ini mencerminkan perbedaan konstruksi dan teknologi yang disematkan. Hal serupa juga terjadi pada merek Bridgestone. Ban konvensional seperti Turanza untuk penggunaan harian berada di kisaran Rp 1 jutaan. Namun, untuk ban dengan spesifikasi lebih tinggi, yang mendekati kebutuhan kendaraan listrik, seperti memiliki load index besar dan konstruksi lebih kuat, harganya bisa meningkat signifikan, meskipun belum secara spesifik dilabeli sebagai ban EV. Fachrul menambahkan, selain kekuatan struktur, faktor kenyamanan juga menjadi perhatian dalam pengembangan ban EV. “Karena mobil listrik lebih senyap, suara dari ban jadi lebih terasa, makanya ada teknologi seperti acoustic foam untuk meredam kebisingan,” ujarnya. Karakter kendaraan listrik yang memiliki torsi instan dan bobot lebih berat juga membuat ban bekerja lebih keras. Kondisi ini menyebabkan ban lebih cepat aus jika dibandingkan mobil biasa, sehingga produsen harus menggunakan material dan desain yang lebih kompleks agar tetap awet dan aman digunakan. Meski demikian, penggunaan ban non-EV masih dimungkinkan selama spesifikasinya sesuai. Fachrul mengingatkan agar konsumen tetap memperhatikan load index dan tidak lebih rendah dari standar pabrikan. “Boleh saja pakai ban biasa, tapi pastikan load index-nya sama atau lebih tinggi dari ban bawaan kendaraan,” kata Fachrul. Dengan perbandingan dalam merek yang sama tersebut, terlihat jelas bahwa harga ban EV bukan sekadar karena label. Ada peningkatan dari sisi teknologi, daya tahan, hingga kenyamanan yang memang disesuaikan dengan karakter kendaraan listrik yang lebih berat dan bertenaga instan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang