Insiden kecelakaan di perlintasan rel kereta api masih kerap terjadi, bahkan tak jarang melibatkan sepeda motor matik yang dianggap paling mudah dikendalikan. Di balik kemudahannya, ada sejumlah kesalahan fatal yang justru sering dilakukan pengendara saat melintasi rel, mulai dari mengabaikan rambu hingga salah mengatur kecepatan di permukaan jalan yang tidak biasa. Menurut Victor Assani, Head of Safety Riding Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia, kesalahan fatal yang paling sering terjadi justru berasal dari perilaku pengendara, bukan semata faktor teknis kendaraan. “Kesalahan fatal yang sering muncul biasanya lebih ke sikap pengendara, seperti tetap nekat dan memaksakan diri menerobos palang pintu kereta,” kata Victor kepada Kompas.com, Rabu (29/4/2026). Ia menjelaskan, banyak pengendara masih melintasi rel dengan kecepatan tinggi tanpa menyesuaikan kondisi jalan. Padahal, area perlintasan kerap memiliki permukaan tidak rata, celah di antara rel dan aspal, serta risiko licin saat hujan atau ketika posisi rel melintang miring terhadap arah kendaraan. Pada sepeda motor matik, kebiasaan tidak menurunkan kecepatan sebelum melintasi rel bisa membuat traksi berkurang dan motor sulit dikendalikan. Kondisi ini berpotensi menyebabkan roda selip atau bahkan kehilangan keseimbangan saat melewati bidang rel yang keras dan berbeda karakter dengan aspal. Sejumlah pemotor tertahan di depan palang pintu perlintasan sebidang Pejaten Timur. Antrean panjang sering terjadi setiap kali kereta komuter (KRL) melintas di jam sibuk. Senin (23/2/2026) Victor juga menyebut, meskipun jarang, ada potensi gangguan elektromagnetik ketika kereta melintas yang dapat memengaruhi komponen elektronik seperti ECM, CDI, maupun sensor. Namun, dampaknya terhadap sistem pengapian dinilai tidak signifikan dan bukan menjadi faktor utama penyebab kecelakaan. Karena itu, ia menegaskan pentingnya kewaspadaan ekstra saat melintasi perlintasan sebidang. Pengendara diminta untuk selalu mematuhi rambu, tidak menerobos palang pintu meskipun kereta belum terlihat, serta menurunkan kecepatan agar kendaraan lebih mudah dikendalikan. “Intinya tetap waspada, taati rambu, jangan nekat menerobos palang pintu walaupun kereta belum melintas. Turunkan kecepatan agar kendaraan lebih terkendali, karena jalan di sekitar rel bukan jalan dengan karakter biasa,” ujarnya. Bila terjadi kondisi darurat seperti mesin mati mendadak di atas rel, pengendara diminta untuk tidak panik. Langkah paling aman adalah segera menuntun atau mendorong kendaraan keluar dari rel, baik ke depan maupun ke belakang, menyesuaikan dengan posisi roda yang mungkin terjebak di celah rel. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang