Penjualan mobil di segmen LCGC anjlok. Daihatsu sudah menyiapkan jurus agar penjualan mobil di segmen tersebut bisa bergairah lagi.Peminat mobil jenis Low Cost Green Car (LCGC) menyusut. Tahun 2025 misalnya, penjualan mobil LCGC anjlok. Dibandingkan tahun 2025, penjualan Honda Brio Satya, Toyota Agya, Toyota Calya, Daihatsu Sigra, dan Daihatsu Ayla itu turun hingga 30 persen, demikian data yang dihimpun Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Sebagai salah satu produsen yang juga menjajakan mobil di segmen LCGC, Daihatsu pun mengamini penurunan tersebut.Jurus Daihatsu Bikin Penjualan LCGC Bergairah LagiKhusus mobil LCGC, Daihatsu juga mencatat penurunan yang cukup drastis. Kalau pada tahun 2024, pangsa pasar mobil LCGC Daihatsu itu tembus 20 persen, maka kini tersisa 15 persen saja. Penurunan itu disebabkan oleh melemahnya daya beli para pembeli mobil pertama yang merupakan pasar utama dari mobil LCGC. "Di tahun 2025, di entry segmen yang mana itu dari first car buyer, penurunannya signfikan di daya beli dan daya bayar turun 4,4 persen," urai Direktur Marketing dan Corporate Communication PT Astra Daihatsu Motor Sri Agung Handayani dalam paparannya saat Media Gathering Daihatsu belum lama ini.Meski begitu, Daihatsu sudah menyiapkan amunisi khusus agar penjualan mobil LCGC-nya bisa bergairah lagi. Agung menambahkan, Daihatsu bakal memudahkan proses kepemilikan mobil LCGC, salah satunya dari sisi pembiayaan. Sebab, para pembeli mobil pertama banyak yang memanfaatkan kredit untuk meminang mobil LCGC."Jadi untuk customer-customer, kita memiliki walaupun tadi NPL-nya, kita memiliki value chain di Astra sendiri yang sangat kuat ya untuk leasing dan kita mempermudah satu hal lagi adalah baik itu interest rate-nya, DP-nya, maupun juga term of payment yang mungkin disesuaikan dengan kebutuhan customer," jelas Agung.Daihatsu diketahui memiliki dua model LCGC dengan opsi mesin 1.0 L dan 1.2 L. Opsi mesin itu tersemat pada Ayla dan juga Sigra. Penurunan penjualan LCGC disebut-sebut memang disebabkan melemahnya daya beli para pembeli mobil pertama. Tak cuma itu, ragam opsi baru di segmen kendaraan listrik dengan harga Rp 200 jutaan juga jadi faktor lainnya.Pembeli Mobil Pertama Babak Belur Bikin Penjualan LCGC MerosotPengamat otomotif Bebin Djuana berpendapat, merosotnya penjualan LCGC ini memang tak lepas dari permasalahan yang menghantui konsumen di segmen tersebut. Kata Bebin, konsumen LCGC amat terdampak dari kondisi perekonomian Indonesia yang tengah turun saat ini. Permasalahan lain adalah pembeli LCGC itu tidak memiliki dana untuk membeli mobil. Padahal sebenarnya keinginan membeli mobil itu ada."Kalau yang di bawah (segmen bawah) memang sudah terlalu mepet budgetnya, dan mereka akan memprioritaskan apa, pendidikan anak, masalah kesehatan, masalah perumahan, iya dong? Mereka lebih ngitung, saya ini mesti menyisihkan uang berapa untuk bayar cicilan rumah ketimbang bikin masalah baru ngambil mobil," ujarnya.Di samping itu, kehadiran mobil listrik harga terjangkau bikin para pembeli mobil pertama yang biasa mengincar LCGC justru beralih. Terlebih, biaya operasional mobil listrik diklaim lebih murah ketimbang mobil bermesin konvensional. Pun lagi di kota besar seperti Jakarta, mobil listrik juga dapat keistimewaan ganjil genap."Karena sekarang kan LCGC udah nggak murah-murah amat. Tidak seperti dulu waktu diperkenalkan. Nah sekarang udah ada EV harganya kira-kira ada di garisnya LCGC. Masyarakat kan tahu keseharian, biaya per kilometernya listrik kan sepertiga daripada beli bensin," tutur Bebin.