Menentukan ukuran helm premium bekas maupun baru ternyata tidak sebisa mengecek label ukuran S, M, atau L saja. Banyak pengendara sepeda motor yang salah memilih helm hanya karena mengandalkan favorit merek tanpa memahami karakter fitment dan bentuk batok helm yang pas dengan anatomi kepala. Akibatnya, helm mahal yang dibeli justru terasa menekan di bagian tertentu, longgar, atau bahkan memicu rasa pusing saat dipakai berkendara. Helm premium bekas Bentuk Kepala dan Aturan Upsize Den Ardy, Manager toko helm premium bekas dan baru The Helmet Corp (THC) di Jakarta, menjelaskan bahwa langkah paling awal dalam meminang helm premium adalah menentukan karakter bentuk kepala pengendara. Dua merek ternama asal Jepang, Arai dan Shoei, memiliki karakteristik batok (shell) yang bertolak belakang untuk menyesuaikan profil kepala pemakainya. "Jadi mau yang lonjong atau yang bulat. Kasarnya kalau yang bulat Arai, yang lonjong si Shoei," ujar Den Ardy kepada Kompas.com, belum lama ini. Helm premium bekas Selain bentuk batok, patokan ukuran (sizing) antar merek juga tidak selalu seragam. Den Ardy mengungkapkan bahwa helm Arai tergolong true size atau ukurannya pas sesuai standar umum. Namun, kondisi ini berbeda jika konsumen melirik merek asal Eropa atau merek lain seperti Nolan dan HJC yang mewajibkan konsumen naik satu ukuran di atas ukuran biasanya. "Kalau untuk Arai, true size dia. Beda sama Nolan, Nolan itu harus upsize. HJC harus upsize. Jadi yang biasanya pakai helm regulernya M, jadi L kalau Nolan," kata Den Ardy. Anatomi Asian Fit dan Euro Fit Hal lain yang sering luput dari perhatian pembeli helm premium adalah perbedaan standar fitment kawasan, yaitu Asian Fit dan Euro Fit. Rata-rata helm resmi yang masuk ke pasar Indonesia menggunakan standar Asian Fit yang sudah disesuaikan dengan kontur kepala masyarakat Asia. Namun, di pasar helm bekas, tidak sedikit beredar helm berstatus Euro Fit yang masuk melalui jalur impor independen. Den Ardy mencontohkan perbedaan ini pada lini Arai, di mana kode RX-7X merupakan standar Asian Fit, sedangkan RX-7V adalah versi Euro Fit. Perbedaan keduanya terletak pada lapisan Expanded Polystyrene (EPS), ukuran batok, hingga ketebalan busa interiornya. "Beda di EPS juga, beda di shell-nya lebih gede, beda di tebal busanya. Harganya juga pasti beda, malah mahalan yang Euro," tuturnya. Hal serupa juga dijumpai pada merek Shoei, di mana varian Euro Fit hadir pada tipe balap seperti X-Spirit. Lapisan EPS pada helm versi Eropa dibuat berbeda dan lebih kecil karena disesuaikan dengan bentuk tengkorak orang Eropa yang cenderung lebih memanjang.