Tren berkendara menggunakan sepeda motor kelas hobi membuat pasar perlengkapan berkendara (riding gear) ikut melesat. Salah satu atribut yang paling dicari untuk mendongkrak penampilan sekaligus faktor keselamatan adalah pelindung kepala alias helm kelas premium. Menariknya, pasar helm bekas (second) untuk merek-merek premium ternyata memiliki ekosistem yang sangat hidup dan permintaannya tidak pernah surut. Helm premium bekas Helm Bekas Jadi Naik Kelas Den Ardy, Manager toko helm premium bekas dan baru The Helmet Corp (THC) di Jakarta, mengungkapkan bahwa sejauh ini perputaran pasar helm bekas didominasi oleh merek-merek ternama seperti Arai, Shoei, AGV, hingga Nolan. Rentang harga yang ditawarkan pun sangat dinamis, mulai dari Rp 5 jutaan hingga puluhan juta rupiah. Menurut Den Ardy, setidaknya ada tiga faktor utama mengapa para bikers di Indonesia gemar melirik pasar helm premium bekas, mulai dari pengendara yang baru mau naik kelas hingga urusan variasi. "Biasanya orang yang baru mau masuk ke helm premium, tapi coba helm second dulu. Yang kedua, budget. Yang ketiga, kalau helm second itu banyak pilihan motifnya dibanding helm baru," kata Den Ardy kepada Kompas.com, Kamis (9/8/2026). Motif Langka Jadi Investasi Bicara soal nilai jual kembali (resale value), kestabilan harga helm premium bekas rupanya tidak melulu dinilai dari kondisi fisik atau tahun produksinya saja, melainkan sangat bergantung pada motif yang melekat. Bahkan, beberapa tipe helm tertentu harganya bisa bertahan stabil atau justru melambung tinggi hingga kerap dijadikan instrumen investasi oleh sebagian orang karena faktor kelangkaannya. Den Ardy mencontohkan pada lini seri tertinggi Arai, yaitu RX-7X, di mana motif pembalap GP reguler seperti milik Dani Pedrosa harga bekasnya berada di angka Rp 7,5 jutaan. Namun, ceritanya akan jauh berbeda jika sudah menyangkut motif langka (rare item). Helm premium bekas "Nah si Nakano ini, misalkan contoh kita ambil Nakano Shuriken Green itu Rp 25 juta harganya. Itu second. Makanya itu tadi dibilang tergantung motif kalau di Arai," tuturnya. Fenomena "harga gelap" ini juga jamak ditemui pada merek asal Italia, AGV, khususnya untuk tipe tertinggi yang sudah berbahan karbon. Den Ardy menjelaskan bahwa untuk motif reguler biasanya berada di angka Rp 20 jutaan, namun untuk motif yang jarang diproduksi harganya bisa melonjak dua kali lipat. "Kalau yang jadi investasi itu biasanya yang motif-motif rare yang jarang. Contohnya kayak (AGV) Pista Wish itu produksi udah kapan tahun tapi ada barunya kita punya koleksinya. Dan itu di luar range harga yang reguler. Biasa reguler di Rp 20 jutaan dia bisa Rp 50 juta" ungkap Den Ardy. Helm-helm dengan motif terbatas ini pun akhirnya sengaja diburu bukan lagi untuk dipakai harian, melainkan disimpan rapat di dalam lemari kaca sebagai pajangan.