Membeli helm premium dalam kondisi bekas menjadi opsi populer bagi para pencinta sepeda motor. Selain bisa mendapatkan merek ternama dengan harga yang lebih miring, ketersediaan motif langka juga menjadi daya tarik tersendiri. Namun, di balik daya tarik tersebut, tidak sedikit calon pembeli yang dibayangi keraguan terkait aspek keselamatan dan usia pakai dari helm bekas tersebut. Pasalnya, helm premium bekas yang beredar di pasaran rata-rata sudah berumur beberapa tahun sejak pertama kali keluar dari pabrik. Helm premium bekas Mitos Kedaluwarsa pada Helm Premium Bekas Pertanyaan soal masa kedaluwarsa helm sering kali muncul mengingat material peredam seperti Expanded Polystyrene (EPS) dan busa interior mengalami penyusutan atau penuaan seiring berjalannya waktu. Sebagai contoh, lini helm Arai RX-7X yang beredar di pasar bekas umumnya mengusung standar sertifikasi Snell kelahiran 2015. Manager toko helm premium bekas dan baru The Helmet Corp (THC) di Jakarta Den Ardy, menjelaskan bahwa di pasar konsumen Indonesia, isu kedaluwarsa pada helm premium bekas sebenarnya tidak pernah menjadi kendala utama selama kondisi fisik dan struktur helm masih terjaga dengan baik. "Aman sih. Sejauh ini enggak pernah ada yang namanya pakai helm second dihitungnya kayak expired, enggak ada sih ya," kata Den Ardy saat ditemui Kompas.com, belum lama ini. Helm premium bekas Masih Lolos Scrutineering untuk Track Day dan Balap Lokal Tingkat keselamatan helm bekas terbukti dari banyaknya konsumen yang masih memanfaatkan helm tersebut untuk aktivitas berkendara berkecepatan tinggi, seperti latihan di sirkuit (track day) hingga ajang balap lokal. Kualitas material dari merek-merek kelas atas seperti Arai, Shoei, hingga AGV dinilai memiliki ketahanan struktural yang sangat baik walau usianya sudah menginjak beberapa tahun. "Tetap saja banyak di sini yang pakai helm second, ya dipakai buat balap, banyak. Untuk sejauh ini kalau yang biasa konsumen pakai, ya track day, ada juga ikut-ikut event balap, aman-aman saja sih. Scrutineering-nya juga masih lolos," ungkap Den Ardy. Proses scrutineering atau pemeriksaan teknis sebelum balapan menjadi tolok ukur bahwa kondisi fisik helm bekas premium masih memenuhi standar kelayakan dan belum mengalami degradasi fungsi keselamatan yang signifikan. Catatan Regulasi untuk Balap Kelas Internasional Meski terbukti aman untuk penggunaan harian hingga ajang balap skala lokal, Den Ardy memberikan catatan kecil mengenai batas penggunaan helm bekas ini. Perbedaan perlakuan mungkin baru akan terasa jika helm digunakan pada kejuaraan balap resmi tingkat internasional yang menerapkan regulasi homologasi ketat. "Cuma mungkin kalau untuk kelas-kelas internasional mungkin enggak direkomendasikan. Tapi untuk penggunaan konsumen harian atau balap lokal sejauh ini masih sangat aman," pungkasnya. Dengan demikian, bagi pengendara yang ingin meminang helm premium bekas, faktor utama yang perlu diperhatikan bukanlah sekadar tahun produksinya, melainkan histori pemakaian dari pemilik sebelumnya, kejujuran kondisi batok, serta keutuhan peredam EPS di dalamnya.