SOLO, KOMPAS com - Bahan bakar minyak (BBM) kerap dianggap bisa mengalami kedaluwarsa seiring waktu penyimpanan. Sehingga, bila sudah disimpan terlalu lama bisa berubah kualitasnya. Seiring waktu, sifat kimia BBM dapat berubah, terutama jika disimpan dalam kondisi yang kurang ideal. Lantas, apakah BBM punya masa kedaluwarsa? Area Manager Communication, Relations, dan CSR Jawa Bagian Tengah, PT Pertamina Patra Niaga, Taufiq Kurniawan mengatakan tidak ada teori yang mengatakan BBM bisa kedaluwarsa. “Dalam praktiknya, Pertamina juga menimbun BBM dengan standar operasional yang ketat, sehingga kualitasnya dapat dipertangjawabkan,” ucap Taufiq kepada KOMPAS.com, Jumat (27/3/2026). Sedangkan BBM yang sudah diterima oleh konsumen, misal ditimbun, kualitasnya belum tentu akan tetap baik. Kondisi ini dapat terjadi lantaran kualitas BBM bisa menurun bila tak disimpan dengan baik dan di tempat ideal. “Terkait seperti apa kualitas BBM yang ditimbun, tentu berada di luar kendali kami, seperti apa penyimpanannya, apakah ditambah aditif dan sebagainya,” ucap Taufiq. Pertamax Green 95 hadir di 170 SPBU Pulau Jawa, dorong energi hijau berbasis bahan baku lokal. Dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM) Jayan Sentanuhady mengatakan, penyimpan BBM di tangan konsumen masih bisa ditoleransi 3 sampai 6 bulan. “Tergantung penyimpan dan jenisnya, umumnya BBM yang mengandung nabati seperti Biosolar dan campuran etanol lebih cepat mengalami degradasi,” ucap Jayan kepada KOMPAS.com, Jumat (27/3/2026). Tempat penyimpanan yang ideal adalah tangki yang kedap udara. Namun, kondisi tersebut tidak memungkinkan terjadi pada tangki BBM pada kendaraan. “Secara umum B100 atau etanol masih mampu bertahan bila disimpan selama 3 bulan, bila lebih dari itu risikonya bakal terjadi penurunan kualitas,” ucap Jayan. Pertamina Patra Niaga menyiagakan SPBU modular untuk mengurai kemacetan dan antrean pengisian bahan bakar minyak (BBM) di jalur mudik Lebaran 2026. Ahmad Safrudin, sering disapa Puput, Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) mengatakan BBM yang terpapar udara akan bereaksi dengan oksigen, sehingga kualitas pembakarannya menurun. “BBM yang sudah di-blending dengan bahan nabati dari pabrikan harus segera digunakan, menyimpannya dalam waktu lama akan membuat kualitas menurun dan membuat performa kendaraan drop,” ucap Puput kepada KOMPAS.com, belum lama ini. Kualitas BBM, seperti RON akan rusak, lama-lama akan semakin jauh dari spesifikasi yang ditetapkan. Sehingga, BBM yang ditimbun tidak disarankan untuk digunakan. Cek harga Pertamax hari ini, Pertamax Turbo, dan Pertamax Green 95 per provinsi yang berlaku sejak 1 Februari 2026. Dalam jangka waktu tertentu, BBM juga bisa membentuk endapan. Zat seperti varnish dapat muncul dan berpotensi menyumbat sistem bahan bakar. “Kontaminasi air juga menjadi masalah serius. Uap air yang ada di dalam wadah dapat menyebabkan mesin tersendat dan memicu karat pada tangki,” ucap Puput. Secara umum, BBM memang memiliki masa simpan, meskipun tidak selalu tercantum secara resmi seperti produk konsumsi lainnya. Penggunaan BBM yang sudah lama dapat menimbulkan berbagai dampak pada kendaraan. Mesin bisa sulit dinyalakan, tarikan melemah, dan konsumsi bahan bakar menjadi lebih boros. Selain itu, sistem bahan bakar seperti injektor berpotensi kotor atau tersumbat. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa menyebabkan kerusakan komponen mesin. Kesimpulannya, BBM tidak memiliki tanggal kedaluwarsa pasti, tetapi kualitasnya akan menurun seiring waktu. Oleh karena itu, penyimpanan dalam jangka lama sebaiknya dihindari demi menjaga performa dan keawetan komponen kendaraan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang