Microsleep menjadi salah satu penyebab kecelakaan yang kerap terjadi saat perjalanan jauh. Kondisi ini membuat pengemudi tertidur dalam hitungan detik tanpa disadari, sehingga sangat berbahaya, terutama ketika melaju di jalan tol. Karena itu, pengemudi disarankan tidak memaksakan diri berkendara terlalu lama tanpa jeda. Istirahat secara berkala dinilai menjadi salah satu cara paling efektif untuk menjaga konsentrasi selama perjalanan. Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana mengatakan, waktu istirahat sebaiknya dilakukan setiap tiga jam berkendara dengan durasi yang disesuaikan. Terapkan Pola Istirahat Bertahap Sony menjelaskan, ada tiga metode istirahat yang bisa diterapkan pengemudi, yakni selama 15 menit, 30 menit, dan satu jam. Menurut dia, metode istirahat 15 menit bukan sekadar berhenti di rest area, tetapi harus dimanfaatkan untuk memulihkan kondisi tubuh dan pikiran. "Jadi metode beristirahat itu ada tiga. Yang pertama metode 15 menit, yang kedua 30 menit, yang ketiga 1 jam. Nah, istirahat 15 menit kan dibagi lagi, 5 menit pertama yang harus di-refresh adalah motoriknya, stretching, itu cukup 5 menit," ucap Sony, kepada Kompas.com, Minggu (26/7/2026). Pemudik harus melakukan istirahat cukup supaya terhindar dari risiko microsleep saat mengemudi "Yang kedua adalah merefresh sensoriknya, menstimulasi sensoriknya, pendengaran, penglihatan, penciuman, dan sebagainya, cukup 5 menit. 5 menit yang ketiga adalah otaknya supaya dia lebih fokus. Jadi sebenarnya metode 15 menit ini relevan untuk perjalanan berikutnya," lanjutnya. Ia menjelaskan, pengemudi yang dalam kondisi bugar, cukup tidur, dan memiliki asupan makanan yang baik dapat menerapkan pola istirahat tersebut selama perjalanan. Setelah 6 Jam, Istirahat Lebih Lama Sony mengatakan, setelah total berkendara selama enam jam, waktu istirahat sebaiknya ditambah menjadi 30 menit. "Nah, setelah menempuh 6 jam, baru dia menerapkan 30 menit. Tapi ini asumsi si pengemudi fit, tidur yang cukup, makan asupannya juga yang sehat-sehat. Nah, 6 jam berikutnya adalah 30 menit, kelipatannya 10 menit, 10 menit, 10 menit," ujarnya. Meski demikian, bukan berarti pengemudi boleh berkendara selama enam jam tanpa berhenti. Sony menegaskan, setiap tiga jam perjalanan tetap harus diselingi waktu istirahat. "Maksimal 3 jam berkendara, istirahat 15 menit, 3 jam lagi berkendara, istirahat 30 menit, dan seterusnya. Jadi enggak non-stop 9 jam atau 6 jam, enggak. Tiap 3 jam diselingi istirahat," kata Sony. Rest Area Travoy KM 88A Jalan Tol Cipularang Wajib Tidur Setelah 9 Jam Sony juga mengingatkan, apabila total waktu berkendara sudah mencapai sembilan jam, pengemudi wajib tidur sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Menurut dia, durasi tidur ideal sekitar satu jam dan sebaiknya tidak lebih lama agar semangat berkendara tetap terjaga. "Kemudian setelah berkendara 9 jam, dia wajib tidur. 1 jam jangan lebih, supaya passion dia berkendara itu tidak hilang," ucap Sony. Ia juga membagikan cara yang dinilai lebih efektif untuk mendapatkan manfaat kopi saat beristirahat. "Nah, umumnya mereka tidur dulu, kemudian setel alarm, bangun, 45 menit baru minum kopi. Coba dibalik sekarang sebelum tidur minum kopi dulu baru dia tidur. Nah, begitu dia bangun dari 45 menit atau 1 jam, dia mendapat dua booster dari kopi, stimulan sama dari bangun tidur," ujar Sony. Jangan Asal Berhenti Sony menilai masih banyak pengemudi yang belum memanfaatkan waktu istirahat secara optimal. Kebanyakan hanya berhenti untuk minum kopi, mengobrol, atau merokok sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Padahal, menurut dia, pola istirahat yang baik harus mampu memulihkan kondisi fisik, sensorik, dan mental agar risiko microsleep bisa ditekan. "Istirahat ini kadang-kadang mereka enggak punya pola, jadi cuma sekedar minum kopi, ngobrol, ngerokok, dianggepnya itu sudah maksimal. Menurut saya istirahatnya sudah benar, tetapi untuk berkendara selanjutnya belum optimal," kata Sony. Dengan menerapkan pola istirahat yang tepat, pengemudi diharapkan tetap fokus selama perjalanan dan dapat meminimalkan risiko microsleep yang berpotensi menyebabkan kecelakaan.