Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyambut baik rencana pemerintah mengaitkan insentif kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dengan program mobil-motor nasional. Meski demikian, asosiasi menilai pemerintah perlu lebih dulu menetapkan definisi dan kriteria kendaraan nasional secara jelas agar implementasi kebijakan tidak menimbulkan perbedaan tafsir di kalangan pelaku industri. Vice Chairman Market Development Gaikindo Jongkie D. Sugiarto mengatakan, hingga kini konsep mobil nasional masih membutuhkan pembahasan lebih lanjut, mulai dari teknologi yang digunakan hingga pihak yang berhak memproduksinya. Ratusan pengunjung GIIAS 2026 mencoba langsung Lepas E4 EV dan L8 PHEV sebelum memutuskan membeli. "Harus dilihat nanti sektor demi sektor. Kita juga harus menyusun dulu kriterianya, mobil nasional itu seperti apa," kata Jongkie saat ditemui di GIIAS 2026, ICE BSD City, Tangerang, Rabu (5/8/2026). Menurut dia, masih banyak aspek yang harus dipastikan sebelum program tersebut diterapkan. "Apakah mobil nasional itu hanya kendaraan listrik? Apakah juga boleh ICE (internal combustion engine)? Apakah dibuat oleh perusahaan Indonesia atau menggunakan teknologi tertentu? Itu semua kan belum tahu," ujarnya. Ekosistem Industri Di luar persoalan definisi, Jongkie menegaskan Gaikindo mendukung langkah pemerintah apabila bertujuan memperkuat industri otomotif nasional melalui skema insentif. Namun, ia mengingatkan agar kebijakan yang disusun tetap memperhatikan ekosistem industri yang selama ini telah berkembang di Indonesia. Pabrik mobil PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Karawang, Jawa Barat. "Kalau pemerintah merencanakan itu, bagus. Kami tentu mendukung. Tinggal nanti duduk bersama untuk memanfaatkan ekosistem yang sudah ada supaya bisa diberdayakan," kata Jongkie. Ia menilai penyusunan kebijakan semacam ini memang tidak bisa dilakukan secara terburu-buru karena harus mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari investasi, manufaktur, hingga rantai pasok industri otomotif. "Masih panjang jalannya, tapi kami sangat mendukung program tersebut dari pemerintah," ujarnya. Menunggu Skema Final Jongkie juga belum ingin berspekulasi mengenai bentuk insentif yang akan diberikan. Menurut dia, pemerintah telah membahas kebijakan tersebut selama beberapa bulan sehingga dipastikan melibatkan banyak pertimbangan. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita saat mengunjungi GIIAS 2026 "Pemerintah sudah memikirkan dan membahasnya cukup lama, sejak 31 Desember 2025. Jadi aspeknya bukan hanya satu, tetapi banyak. Kita tunggu saja sampai kebijakan itu benar-benar diluncurkan," kata Jongkie. Sebelumnya, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memastikan insentif kendaraan listrik ke depan akan difokuskan untuk mendukung pengembangan industri otomotif nasional. Artinya, fasilitas tersebut hanya akan diberikan kepada kendaraan yang masuk dalam kategori mobil nasional maupun motor nasional yang saat ini tengah disiapkan. "Insentif yang akan kita berikan itu basisnya adalah mobil-mobil yang dikategorikan mobil nasional. Juga motor-motor yang dikategorikan motor nasional, ada program Molinas," kata dia di sela kunjungan ke Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026, ICE BSD, Tangerang, Kamis (30/7/2026). Ia menambahkan, Kementerian Perindustrian saat ini bertugas menyiapkan aspek teknis pelaksanaan kebijakan, sementara rincian skema insentif masih berada di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.