— Memasuki musim hujan, banyak jalan di perkotaan maupun daerah yang mulai dipenuhi genangan air. Kondisi seperti ini sering kali membuat pengemudi mobil tergoda untuk tetap melaju tanpa memperlambat laju kendaraannya. Padahal tindakan tersebut bisa menimbulkan cipratan air yang mengenai pejalan kaki, pengendara motor, atau pengguna jalan lain. Genangan air yang tidak pernah surut di Jalan Baru Plenongan, Pancoran Mas, Kota Depok, Kamis (28/8/2025). Jusri Pulubuhu, instruktur keselamatan berkendara dan Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), mengingatkan bahwa jalan raya bukanlah milik pribadi, melainkan ruang publik yang digunakan bersama oleh berbagai pihak. “Perlu diketahui bahwa jalan raya adalah ruang publik milik bersama. Penggunanya bukan hanya pengendara motor, tetapi juga angkutan umum, pejalan kaki, pedagang, dan lainnya. Semua memiliki kepentingan yang berbeda-beda,” ujar Jusri kepada Kompas.com, Rabu (12/12/2025). Menurut Jusri, kepatuhan terhadap tata tertib lalu lintas saja tidak cukup. Pengemudi juga perlu memiliki kontrol diri dan empati agar bisa memahami posisi orang lain di jalan. Genangan air imbas hujan deras di Jalan Margonda Raya, Kota Depok, Selasa (12/8/2025). “Karena itu, saat kita menaati tata tertib lalu lintas, kita juga perlu memiliki kontrol diri dan empati. Artinya, kita menempatkan diri sebagai bagian dari interaksi dengan orang lain, di mana etika dan adab berlaku di jalan raya. Empati menjadi kata kunci,” lanjutnya. Ia menambahkan, etika di jalan sering kali diuji dalam situasi sederhana. Salah satunya ketika hujan turun dan ada genangan air. Saat itu, perilaku pengemudi bisa mencerminkan seberapa tinggi kesadarannya terhadap keselamatan dan kenyamanan orang lain. “Tertib dan terampil berkendara tidak menjamin bebas konflik, karena gesekan bisa muncul baik secara verbal maupun nonverbal," katanya. Genangan air yang tidak pernah surut di Jalan Baru Plenongan, Pancoran Mas, Kota Depok, Kamis (28/8/2025). "Etika di jalan sering kali diuji dalam situasi kecil, misalnya saat hujan, ketika ada genangan air dan cipratan dari kendaraan lain bisa memicu kemarahan. Maka dari itu, etika dan adab harus dijaga kapan pun, apalagi saat kondisi hujan dan jalan tergenang,” ujar Jusri. Hal kecil seperti menahan diri agar tidak membuat cipratan bisa menjadi bentuk nyata dari empati dan penghormatan kepada sesama pengguna jalan. “Bagi para pengemudi, saat melintasi jalan basah atau hujan, sebaiknya kurangi kecepatan agar percikan air dari roda tidak mengenai pengguna jalan lain. Berkendaralah perlahan, hindari manuver mendadak yang bisa menimbulkan hempasan air,” kata Jusri. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.