Musim hujan kembali menyapa, dan bagi para pengendara sepeda motor, genangan air di jalan raya menjadi "menu" harian yang tak terelakkan. Sering kali, pengendara terjebak dalam dilema: apakah harus mengambil lajur tengah, atau menepi ke sisi kanan untuk menghindari kubangan? Namun, keputusan untuk menerjang genangan air ternyata tidak sesederhana memilih posisi lajur. Ada perhitungan teknis dan pengamatan visual yang harus dilakukan agar motor tidak mogok, atau lebih buruk lagi, terperosok ke dalam lubang yang tersembunyi di balik air. Agus Sani, Head of Safety Riding Promotion Wahana, mengatakan, melewati genangan air yang paling penting bukan pilih tengah atau kanan. Tapi, harus lihat kondisi jalannya dulu. Hujan deras sebabkan banjir di Jalan Daan Mogot, Cengkareng, Jakarta Barat, Kamis (22/1/2026) Hindari Sisi yang Gelap Pengamatan pertama yang harus dilakukan adalah melihat warna dan kedalaman air. Secara topografi, jalan raya biasanya dirancang miring ke arah saluran pembuangan di sisi kiri. Oleh karena itu, potensi air terdalam biasanya berada di area tersebut. "Sebaiknya hindari bagian yang terlihat paling dalam. Biasanya, di sisi kiri atau titik yang airnya menggenang lebih gelap," ujar Agus, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. Warna air yang lebih gelap menandakan volume air yang lebih banyak atau adanya cekungan yang lebih dalam. Jika pengendara nekat melintas, risiko water hammer atau air masuk ke ruang bakar menjadi sangat tinggi. Ilustrasi water hammer Menjaga Momentum dan Jarak Aman Jika sudah menemukan bagian yang dirasa paling aman, teknik berkendara menjadi kunci selanjutnya. Pengendara dilarang melakukan manuver agresif atau perubahan kecepatan secara tiba-tiba yang bisa mengganggu keseimbangan motor di atas permukaan yang licin. "Pilih jalur yang airnya paling dangkal dan aman, bisa di tengah atau kanan tergantung situasi. Lalu, kurangi kecepatan, jaga gas tetap stabil, jangan mengerem mendadak, dan selalu jaga jarak dengan kendaraan lain karena pengereman bisa berkurang," kata Agus. Pengereman yang berkurang diakibatkan oleh piringan cakram atau kampas rem yang basah, sehingga daya cengkeramnya tidak semaksimal saat kondisi kering. Para pengendara sepeda motor nekat menerobos genangan air di pertigaan Hek, Kramatjati, Jakarta Timur, Senin (24/11/2014). Jangan Memaksakan Diri Langkah paling bijak saat menghadapi banjir yang cukup tinggi adalah dengan tidak menjadi "pahlawan". Jika permukaan jalan sudah tidak terlihat sama sekali, risikonya jauh lebih besar daripada sekadar waktu yang terbuang untuk memutar balik. "Kalau genangannya terlalu dalam dan tidak terlihat dasar jalannya, lebih baik tidak dipaksakan untuk dilewati, sebaiknya mencari jalan alternatif atau melihat pengendara lain yang bisa melewati jalan tersebut," ujarnya. Melihat kendaraan lain, terutama yang sejenis, bisa menjadi tolok ukur instan untuk mengetahui kedalaman air. Jika motor di depan tampak terendam hingga knalpot atau filter udara, maka putar balik adalah pilihan paling rasional demi keselamatan mesin dan diri sendiri. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang