Sorotan terhadap performa Marc Marquez dalam beberapa musim terakhir tak pernah surut. Meski sempat kembali meraih gelar, kondisi fisik pebalap asal Spanyol tersebut masih menjadi tanda tanya besar di tengah persaingan MotoGP yang semakin ketat. Sejumlah pihak menilai, penurunan performa Marquez tidak lepas dari cedera panjang yang pernah dialaminya. Namun, tak banyak yang benar-benar memahami seberapa berat kondisi yang harus dihadapi oleh juara dunia tersebut setiap kali turun ke lintasan. MotoGP Amerika 2026 yang digelar di Sirkuit Austin menjadi saksi mata. Marquez yang dijuluki "King of COTA" berkat catatan kemenangan yang impresif tidak bisa naik podium. Marc Marquez saat berlaga pada MotoGP Thailand 2026 “Marc bukanlah pebalap yang suka mengeluh dan dia tidak pernah mencari-cari alasan,” kata Andrea Dovizioso, pebalap tes Yamaha, yang juga mantan pebalap MotoGP, dikutip dari Motorsport.com, Jumat (3/4/2026). “Jadi, kenyataan tentang bagaimana kondisinya dan seberapa banyak masalah yang dia hadapi, terutama bagi mereka yang tidak mendukungnya, tidak pernah terlalu diperhatikan. Namun, menurut saya, situasinya jauh lebih serius daripada yang terlihat,” kata Dovizioso. Menurut Dovizioso, karakter Marquez yang cenderung menutup rapat kondisi sebenarnya justru membuat publik kurang menyadari betapa besar tantangan yang dihadapi. Padahal, dalam dunia balap dengan intensitas tinggi seperti MotoGP, kondisi fisik menjadi faktor krusial yang sangat menentukan performa. Marc Marquez saat sesi tes resmi Buriram 2026 "Tahun lalu, dia berhasil meraih gelar juara. Saya tidak tahu persis berapa persentasenya, tapi tak diragukan lagi dia belum berada dalam kondisi 100%," ujar Dovizioso. Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa keberhasilan Marquez meraih gelar bukan berarti ia telah sepenuhnya pulih. Ada kemungkinan besar ia masih harus berjuang melawan keterbatasan fisik, terutama pada bagian tubuh yang sebelumnya mengalami cedera serius. “Secara fisik, dia masih harus banyak memperbaiki diri. Dan mungkin akibat kecelakaan di Indonesia, keterbatasan pada lengannya semakin parah, yang menurut saya tidak ada solusinya,” kata Dovizioso. Pebalap Ducati Lenovo Team, Marc Marquez, dibayangi Pedro Acosta (Red Bull KTM) dan pebalap Trackhouse MotoGP Raul Fernandez (belakang) dalam Sprint Race MotoGP Thailand 2026 di Sirkuit Internasional Buriram di Buriram pada 28 Februari 2026. (Foto oleh Lillian SUWANRUMPHA / AFP) Kecelakaan yang dimaksud merujuk pada insiden yang terjadi dalam beberapa musim terakhir, yang berdampak signifikan pada kondisi lengan Marquez. Cedera tersebut bahkan sempat membuatnya absen panjang dan menjalani beberapa kali operasi. Situasi ini menjadi tantangan besar, bukan hanya dari sisi fisik, tetapi juga mental. Kemampuan untuk tetap kompetitif di level tertinggi, sambil menghadapi keterbatasan tubuh, menunjukkan betapa besar determinasi yang dimiliki Marquez sebagai seorang pebalap. Pebalap MotoGP asal Spanyol dari tim Ducati Lenovo, Marc Marquez, bereaksi di dalam garasi timnya pada hari kedua tes pramusim MotoGP 2026 di Sirkuit Internasional Sepang di Sepang pada 4 Februari 2026. Marquez pun mengakui bahwa kekalahan di Sirkuit Austin bukan karena Ducati yang tidak bisa mengejar performa Aprilia. Namun, karena kondisinya yang tidak bisa berbuat lebih banyak lagi. Ke depan, kondisi ini bisa menjadi faktor penentu dalam perjalanan kariernya. Jika tidak ada solusi medis yang mampu mengembalikan performa fisiknya secara penuh, maka Marquez harus terus beradaptasi dengan gaya balap yang lebih efisien untuk tetap bersaing di papan atas MotoGP. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang