Harga BBM diesel nonsubsidi memang sempat melonjak tajam pada pertengahan 2026. Namun, pengalaman Asyraf Rafi asal Jakarta Barat, membuktikan bahwa biaya operasional Toyota Kijang Innova Reborn Diesel tidak hanya ditentukan oleh harga bahan bakar, tetapi juga pemilihan BBM dan cara merawat kendaraan. Pemilik Innova Reborn Diesel yang sudah hampir empat tahun digunakan dengan odometer sekitar 32.000 kilometer ini memilih tetap menggunakan Pertamina Dex, sesuai rekomendasi pabrikan. Keputusan tersebut memang membuat biaya isi bahan bakar lebih mahal dibanding Biosolar, tetapi menurutnya terbayar lewat konsumsi BBM yang irit dan biaya perawatan yang tetap rendah. Ilustrasi SPBU Pertamina. Dexlite. Harga Dexlite. Harga Dexlite terbaru. Harga Dexlite Juni 2026. Harga Dexlite Pertamina. Harga BBM Dexlite. Harga Dexlite 1 Juli 2026. Harga Dexlite hari ini. Bahkan setelah harga BBM turun per 1 Juli 2026, biaya operasional menjadi semakin ringan. Harga Pertamina Dex turun dari Rp 24.800 menjadi Rp 21.150 per liter. Dengan tangki berkapasitas 55 liter, biaya isi penuh kini sekitar Rp 1.163.250 atau lebih hemat Rp 200.750 dibanding sebelumnya. Namun, Rafi menilai harga BBM bukan satu-satunya faktor yang menentukan efisiensi sebuah mobil diesel. Toyota Kijang Innova Reborn tipe G BBM Sesuai Rekomendasi Rafi mengatakan, sejak mobil baru ia selalu menggunakan Pertamina Dex karena kandungan sulfurnya lebih rendah dibanding Biosolar. "Menurut saya, harga memang lebih mahal, tetapi kualitas berkendaranya juga lebih baik. Kalau memakai solar kualitas rendah, ujung-ujungnya biaya perawatannya juga lebih mahal. Filter lebih sering diganti, mesin harus dibersihkan, tangki dikuras, oli lebih cepat diganti," kata Rafi, kepada Kompas.com (13/7/2026). Namun, penggunaan BBM berkualitas saja tidak cukup. Menurutnya, konsumsi bahan bakar tetap sangat bergantung pada gaya mengemudi. Interior Toyota Kijang Innova Reborn tipe G Ia memilih melaju konstan di kecepatan 80-90 km per jam, saat mesin hanya berputar di bawah 1.500 rpm. Pada kondisi tersebut, torsi dari mesin 2.4 liter turbo diesel sudah cukup besar sehingga pedal gas tidak perlu diinjak dalam. Selain itu, ia juga menjaga jarak dengan kendaraan di depan agar tidak sering mengerem. Hasilnya, konsumsi BBM Innova Reborn miliknya mencapai sekitar 19 kilometer per liter. Sebelumnya, saat masih terbiasa melaju hingga 100 km per jam, konsumsi BBM hanya berkisar 16-17 kilometer per liter. "Bisa irit atau tidak itu sebenarnya tinggal bagaimana menyiasati penggunaannya saja," ujarnya. Ilustrasi filter solar kotor Hampir 4 Tahun Dipakai, Filter Solar Masih Belum Diganti Keuntungan menggunakan BBM sesuai rekomendasi pabrikan juga dirasakan saat melakukan perawatan berkala. Meski odometer sudah mencapai sekitar 32.000 kilometer, penggantian komponen masih minim. Filter solar bawaan pabrik juga belum pernah diganti. Padahal, jadwal penggantian dari diler berada di kisaran 30.000 kilometer, atau sudah lewat 2.000 kilometer. "Saat servis terakhir sebenarnya sudah disarankan mengganti filter solar. Namun saya menolak karena indikator warning belum menyala," kata Rafi. Layanan aftersales service di Auto2000 ditunjang oleh fasilitas yang modern dan mekanik yang berkualitas, semakin memberikan rasa nyaman. Ia rutin melakukan servis melalui layanan Auto2000 Home Service Daan Mogot. Menurut mekanik, filter solar masih awet karena sejak awal mobil selalu menggunakan Pertamina Dex. Selama hampir empat tahun pemakaian, komponen yang diganti juga tergolong minim. Rafi hanya mengganti filter AC, filter oli saat servis berkala, serta satu set ban BFGoodrich seharga sekitar Rp 7 juta. Sementara itu, kampas rem masih bawaan pabrik. Perbaikan yang pernah dilakukan hanya membubut cakram depan saat odometer sekitar 10.000-15.000 kilometer karena muncul getaran ketika mengerem. Toyota Innova Reborn Pada interval servis 30.000 kilometer, ia juga melakukan pembersihan intake menggunakan cairan khusus dengan biaya sekitar Rp 800.000. Setelah itu, menurutnya performa mesin kembali terasa segar dan suara turbo menjadi lebih jelas. Rafi juga menggunakan oli Motul TRD Diesel yang sesuai spesifikasi Toyota, serta rutin menjaga tekanan angin ban sesuai rekomendasi pabrikan agar konsumsi BBM tetap optimal. Meski mengakui mobil listrik menawarkan biaya energi yang jauh lebih murah, ia menilai mobil diesel masih relevan selama pemilik memahami cara merawat dan menggunakannya. "Kalau memang suka mobil bermesin pembakaran dalam, ya dipertahankan saja selama kemampuannya cukup. Menurut saya, biaya operasional juga masih bisa dijaga, asal pakai BBM yang tepat dan cara pakainya juga benar," ujar Rafi.