Menggunakan mobil buatan pabrikan Eropa memberikan prestise tersendiri bagi pemiliknya. Di pasar mobil bekas, harga kendaraan asal Benua Biru tersebut pun cenderung terdepresiasi cukup tajam dibandingkan merek-merek asal Jepang. Meski demikian, berkembang stigma di masyarakat bahwa merawat dan merestorasi mobil Eropa bekas sangat merepotkan. Konsumen kerap menganggap mobil Jepang sebagai pilihan yang jauh lebih aman dan praktis untuk penggunaan harian. Namun, pandangan tersebut ditepis oleh Kamal, pemilik Bengkel Kafka yang berlokasi di daerah Cifor, Bogor. Menurut mekanik yang biasa menangani kendaraan harian ini, merawat mobil Eropa sebenarnya tidak serumit yang dibayangkan. Bengkel umum Suku Cadang dan Purnajual Kamal mengungkapkan, salah satu keunggulan utama dari pabrikan Eropa adalah komitmen purnajual (aftersales) serta ketersediaan suku cadang orisinal untuk unit berusia tua yang masih terjaga hingga ke jaringan diler resmi. “Saya dulu pakai BMW Seri 3 E36 keluaran 1991. Pernah beli suku cadang di bengkel resmi dan ternyata barangnya ada, berstatus New Old Stock (NOS) orisinal walau dusnya sudah kusam,” ujar Kamal kepada Kompas.com, belum lama ini. Selain ketersediaan komponen, perhatian pabrikan Eropa terhadap aspek keselamatan juga dinilai sangat tinggi. Kamal mencontohkan langkah BMW yang menggelar program penarikan kembali (recall) komponen airbag pada rentang tahun 2022–2023 untuk unit produksi 1995 tanpa dipungut biaya. Filosofi Perawatan Membahas perbedaan kemudahan perawatan antara mobil Jepang dan Eropa, Kamal menilai kuncinya terletak pada filosofi perancangan yang diusung oleh masing-masing produsen. Pabrikan Jepang merancang kendaraan dengan mempertimbangkan kebiasaan umum penggunanya (human habit). Mereka mengantisipasi pemilik kendaraan yang kerap alpa atau menunda jadwal perawatan berkala. “Orang Jepang berpikir kalau pemilik mobil itu cenderung acuh. Jadi kalau ada komponen yang harus diganti di kilometer 100.000, saat mobil dipakai sampai kilometer 200.000 pun mesinnya tidak langsung jebol,” ucap Kamal. RS Primaya dan W124 Mercedes-Benz Boxer Club Indonesia (W124 MBCI) Jakarta Chapter menjalin kerja sama. Sebaliknya, pabrikan Eropa, khususnya Jerman, membangun kendaraan berlandaskan kepatuhan penuh terhadap petunjuk teknis (terms and conditions). Perawatan mobil Eropa menuntut kedisiplinan pemiliknya. “Kalau orang Jerman buat mobil, syarat dan ketentuannya sangat jelas. Kalau pemiliknya disiplin mengikuti aturan tersebut, mobilnya akan sangat awet sampai kapan pun. Contohnya bisa dilihat pada taksi Mercedes-Benz tua di Afrika yang bodinya sudah ringsek, tetapi mesinnya masih terus beroperasi,” lanjutnya. Kendati demikian, Kamal memberikan catatan bahwa untuk mobil-mobil Eropa keluaran tahun 2010 ke atas, terdapat kecenderungan penurunan daya tahan akibat tuntutan dinamika industri otomotif modern. “Pabrikan Eropa keluaran 2010 ke atas kualitasnya mulai sedikit menurun karena faktor industri. Kalau mereka membuat kendaraan yang terlalu tahan lama, siklus perputaran industrinya jadi kurang berjalan,” kata Kamal.