Industri ban menghadapi tekanan sepanjang 2026. Di satu sisi, harga bahan baku mengalami kenaikan hingga 10-11 persen dibandingkan tahun lalu. Di sisi lain, permintaan pasar justru mulai melemah pada paruh kedua tahun ini. Kondisi tersebut membuat produsen ban berada dalam posisi sulit. Kenaikan biaya produksi secara bisnis seharusnya dapat diteruskan melalui penyesuaian harga jual. Namun, daya beli dan permintaan pasar yang menurun membuat langkah tersebut tidak mudah dilakukan. Presiden Direktur PT Bridgestone Tire Indonesia Mukiat Sutikno mengatakan, kenaikan harga bahan baku menjadi salah satu tantangan utama industri ban pada 2026. Dua ban perdana Dayton diluncurkan pada Rabu (23/9/2026) di Dayton Media Test Drive: H/T100 (kiri) dan DT30 (kanan). "Untuk pemain ban, untuk tahun 2026 ini tantangan paling utama adalah terkait raw material price increase. Karena bisa dikatakan raw material price increase dibandingkan 2025 itu naiknya sekitar 10-11 persen," kata Mukiat di Jakarta, Rabu (23/9/2026). Menurut Mukiat, produsen tidak bisa serta-merta menaikkan harga ban dengan besaran yang sama dengan kenaikan bahan baku. "Sedangkan kita tidak bisa meningkatkan harga by 10-11 persen tadi, karena market-nya masih hilang," ujarnya. Dalam upaya pelestarian lingkungan di area pabrik, Bridgestone Karawang mengimplementasikan inovasi Centralized Maintenance Energy Monitoring System (CMEMS) berbasis SCADA IoT. Harga Bahan Baku Naik Tekanan biaya tersebut terjadi ketika pasar ban mulai menunjukkan perlambatan. Mukiat mengatakan, pasar ban pada semester pertama 2026 masih tumbuh sekitar 4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, memasuki semester kedua, permintaan mulai melemah. Sejak Juli hingga September 2026, pasar ban disebut mengalami penurunan dibandingkan semester pertama. "Di semester kedua ini kalau kita bilang mungkin dibandingkan semester pertama itu paling sedikit sekitar 5 persen drop. Bahkan beberapa pangsa pasar kalau kita lihat 5-10 persen," kata Mukiat. proses produksi ban Bridgestone di Thailand Menurut dia, kondisi pasar pada semester pertama masih terbantu momentum Lebaran. Aktivitas mudik dan perjalanan masyarakat mendorong mobilitas sekaligus pengeluaran untuk kendaraan. Memasuki semester kedua, masyarakat mulai menghadapi berbagai kebutuhan lain, termasuk biaya sekolah dan tahun ajaran baru. Kondisi ekonomi global juga turut memberikan pengaruh terhadap pasar domestik. Kondisi tersebut akhirnya membuat produsen ban menghadapi dua tekanan sekaligus, yakni biaya produksi yang meningkat dan permintaan yang menurun. Bridgestone Potenza Adrenalin RE005. Konsumen Mulai Perpanjang Masa Pakai Ban Pelemahan pasar juga terlihat dari perubahan perilaku konsumen. Mukiat mengatakan, sebagian konsumen kini memilih menunda penggantian ban demi mengatur pengeluaran. Konsumen masih datang ke toko untuk melakukan perawatan kendaraan seperti balancing, spooring, maupun servis. Namun, penggantian ban yang seharusnya dilakukan dalam waktu lebih dekat mulai ditunda. "Kalau ganti sih mereka mau enggak mau kan tetap harus ganti. Tapi tadinya instead of nanti, ya bisa enggak saya tiga-empat bulan, berbalik kayak gitu. Jadi memperlama masa pakai ban tadi," kata Mukiat. Pengecekan kondisi ban pascamudik Lebaran dibutuhkan sebagai langkah menjaga kenyamanan dan keselamatan berkendara. Di tengah kondisi tersebut, produsen juga menghadapi persaingan yang semakin ketat dengan masuknya berbagai merek baru, termasuk merek asal China. Situasi ini membuat produsen tidak bisa hanya mengandalkan kenaikan harga untuk menutup peningkatan biaya produksi. Produk juga harus menawarkan nilai yang dianggap penting oleh konsumen. "Yang pastikan bagaimana kita memastikan customer cari apa sih? Satu kan tentunya dari segi safety. Dan kedua dari segi fuel efficiency," ujar Mukiat. TOMO Signature hadirkan layanan premium, tak hanya sebagai toko ban Menurut dia, efisiensi bahan bakar menjadi salah satu pertimbangan konsumen karena berkaitan langsung dengan biaya penggunaan kendaraan dalam jangka panjang. Karena itu, produsen perlu menjaga kualitas produk sekaligus menyesuaikannya dengan kebutuhan konsumen di tengah tekanan daya beli. "Fokus kami adalah terkait kualitas dari produk yang kita produksi di Indonesia dan bisa memenuhi apa yang diinginkan oleh konsumen," kata Mukiat.