— Francesco Bagnaia mengakui musim MotoGP 2025 menjadi periode yang sulit, terutama setelah kalah bersaing dengan rekan setimnya sendiri, Marc Marquez. Marquez yang berstatus pendatang baru di tim pabrikan Ducati tampil dominan dengan meraih banyak kemenangan dan mengunci gelar juara lebih awal, sementara Bagnaia kerap kehilangan poin pada sejumlah seri balapan. Meski kalah secara hasil, Bagnaia menegaskan hubungan dengan Marquez di dalam tim tetap berjalan profesional dan penuh rasa saling menghormati. Francesco Bagnaia (Ducati) kembali naik ke peringkat ketiga di klasemen MotoGP usai kemenangan di Sprint Race MotoGP Malaysia 2025. Sprint Race MotoGP Malaysia 2025 digelar di Sirkuit Sepang, Sabtu (25/10/2025), siang WIB. “Saya tidak mengklaim berteman dengan semua orang, tetapi saya bisa berhubungan baik dengan semua orang dan tidak pernah punya masalah besar di masa lalu,” kata Bagnaia dikutip dari Speedweek, Senin (19/1/2026). Bagnaia menilai Marquez mampu menempatkan diri dengan baik sejak awal. “Dengan pebalap yang punya karisma khusus seperti Marquez, ada dua kemungkinan: diskusi muncul sejak awal, atau justru cepat menemukan cara untuk saling memahami," kata Bagnaia. "Marquez mengambil pendekatan yang sangat tenang, memahami dinamika tim, dan tahu betapa pentingnya suasana yang bersahabat. Hal itu membuat kami bisa saling mengenal dengan baik, dan hubungan kami sangat baik,” ujarnya. Helm spesial Shoei edisi Marc Marquez juara dunia MotoGP 2025 dijual dengan jumlah yang sangat terbatas, 93 unit di dunia Pada musim MotoGP 2025, Bagnaia memang tercatat jarang berada dalam jarak persaingan langsung dengan Marquez. Pebalap jebolan VR46 Academy itu juga menepis anggapan adanya perlakuan khusus dari Ducati kepada sang juara dunia. Bagnaia menegaskan, Ducati menerapkan prinsip kesetaraan dalam urusan teknis di dalam tim. “Tentu saja, diskusi bisa muncul jika satu pebalap mendapatkan komponen baru sementara yang lain tidak. Namun, itu tidak terjadi di Ducati, kami diperlakukan secara setara. Jika sebuah komponen belum tersedia untuk kedua pebalap, maka tidak ada yang menggunakannya,” kata Bagnaia. Pebalap Ducati Lenovo Team, Marc Marquez, beraksi dalam sesi practice MotoGP Indonesia 2025 di Sirkuit Internasional Mandalika di Mandalika, Nusa Tenggara Barat pada 3 Oktober 2025. (Foto oleh Sonny TUMBELAKA / AFP) Menurut Bagnaia, filosofi tersebut menjadi salah satu kunci Ducati berkembang pesat dan menjadi acuan di MotoGP dalam beberapa tahun terakhir. Ia juga membandingkan pendekatan Ducati dengan tim lain yang pernah dibela Marquez sebelumnya. “Di Honda, Marquez adalah satu-satunya pebalap yang mampu memaksimalkan motor, dan itu membuat perbedaan besar baginya. Namun Ducati bekerja dengan cara berbeda," katanya. "Di sini, setiap pebalap bisa menempuh jalannya sendiri. Tidak ada kewajiban bagi keduanya untuk menggunakan perangkat yang sama. Sebagai contoh, kami pernah balapan dengan dua jenis fairing yang berbeda,” ujar Bagnaia. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang