Kemacetan di jalur Puncak kembali menjadi pemandangan yang hampir selalu muncul setiap akhir pekan dan musim liburan. Arus kendaraan menumpuk, laju kendaraan melambat, sementara aktivitas wisata dan ekonomi tetap berjalan di sepanjang jalur pegunungan tersebut. Pertanyaannya, mengapa fenomena ini terus berulang dari tahun ke tahun? Ketua Umum Inisiatif Strategis Transportasi (Instran) Budi Susandi, mengatakan bahwa persoalan kemacetan Puncak tidak bisa dipandang hanya dari satu faktor. Sejumlah kendaraan melintas di jalur Puncak, Cianjur, Jawa Barat, yang diselimuti kabut tebal, Kamis (25/12/2025). Polisi mengimbau pengguna jalan meningkatkan kewaspadaan di jalur ini karena visibilitas menurun akibat cuaca ekstrem. Menurutnya, ada dua penyebab utama yang membuat Puncak hampir selalu macet ketika jumlah wisatawan meningkat. “Sebenarnya ada dua. Pertama, secara infrastruktur. Luas jalan itu kan tidak bisa diubah mendadak di akhir pekan,” ujar Budi, kepada Kompas.com (28/12/2025). “Jalannya ya segitu. Tapi suplai kendaraannya tinggi. Misalkan jalan hanya menampung seribu kendaraan, tapi di akhir pekan bisa sepuluh ribu datang dalam waktu bersamaan. Jadi daya tampung jalan tidak cukup,” kata dia. Penampakan arus lalu lintas di Puncak Pass Bogor sampai Masjid Atta'Awun mengalami kemacetan sekitsr pukul 13.42 WIB, Minggu (21/6/2020) Pada saat yang sama, aktivitas ekonomi masyarakat di kawasan wisata juga ikut menyumbang kepadatan. Mulai dari pedagang UMKM, tempat wisata, hingga angkot, semuanya memanfaatkan momentum libur untuk meningkatkan pendapatan. “Kedua, aktivitas ekonomi masyarakat sekitar Puncak. UMKM, pedagang, jasa wisata, angkot, semua mengoptimalkan hari libur untuk mencari pendapatan lebih,” ucap Budi. “Banyak kendaraan yang menepi untuk makan, belanja, istirahat. Karena tidak diatur, tidak dikendalikan, akhirnya jadi bangkitan transportasi dan menambah kemacetan,” ujarnya. Kondisi arus lalu lintas saat diberlakukan one way. Sebuah ambulans diprioritaskan melinta namun pengendara motor ikut di belakang sehingga menyebabkan kemacetan di depan pintu keluar Gunung Mas, Puncak Bogor, Jawa Barat, Minggu (16/11/2025). Menurut Budi, kondisi ini menunjukkan bahwa Puncak bukan sekadar jalur lalu lintas wisata, melainkan juga ruang ekonomi yang hidup. Akibatnya, interaksi antara mobilitas wisatawan dan aktivitas lokal kerap menciptakan titik-titik perlambatan. Dari sisi kebijakan transportasi, pembatasan kendaraan pribadi sering muncul sebagai wacana solusi. Namun, Budi menegaskan bahwa penanganan kemacetan tidak bisa bergantung pada satu kebijakan saja. “Solusi kemacetan itu tidak ada yang tunggal. Harus komprehensif. Sama seperti teori push and pull,” katanya. Situasi kepadatan arus lalu lintas di Simpang Gadog atau selepas Exit GT Ciawi, arah Puncak Bogor, Jawa Barat, Sabtu (28/6/2025). Antrean kendaraan sampai 3 kilometer. Ia menjelaskan, pendekatan “push” berarti mendorong masyarakat berpindah dari kendaraan pribadi ke transportasi umum. Sementara “pull” berarti pemerintah harus menyediakan layanan angkutan umum yang benar-benar menarik untuk dipilih. Salah satu contoh yang menurutnya relevan adalah kebijakan ganjil–genap, namun harus dibarengi fasilitas interkoneksi perjalanan. “Contohnya, ganjil–genap. Itu upaya pembatasan. Tapi harus didukung park and ride di pintu Tol Ciawi. Jadi orang dari Jakarta parkir mobil di sana, lalu naik shuttle bus ke Puncak atau Cianjur,” ujarnya. Lahan parkir di Rest Area Gunung Mas Puncak. Budi juga menyinggung rencana pengembangan moda alternatif seperti kereta gantung, yang dinilai lebih realistis dibanding pelebaran jalan. “Dulu juga sempat ada rencana kereta gantung. Itu menurut saya feasible, karena tidak butuh pembebasan lahan luas, cukup untuk tiang penyangga saja. Di beberapa negara pegunungan juga dipakai. Pelebaran jalan itu akan terhambat lahan dan butuh waktu lama,” katanya. Karena itu, menurutnya, strategi terbaik justru mengombinasikan berbagai instrumen pembatasan dan penyediaan layanan transportasi. Anggota Satlantas Polres Bogor melakukan pengaturan lalu lintas di Jalur Puncak, Kabupaten Bogor. Dok Polres Di luar aspek rekayasa transportasi, Budi menilai penting adanya pemerataan destinasi wisata agar beban mobilitas tidak selalu menumpuk di Puncak. “Selain itu, kita juga harus menciptakan destinasi baru yang menarik selain Puncak,” ucap Budi. Dengan begitu, arus wisata tidak terfokus pada satu kawasan saja, sementara masyarakat tetap memiliki pilihan berlibur tanpa harus menghadapi kemacetan berkepanjangan. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang