PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) bicara peluang menjadi pusat produksi dan pengembangan motor listrik di kawasan Asia. Menurut mereka, penunjukan tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk kondisi pasar setempat.Sebagai catatan, jika mengacu dari pasar global, Yamaha Indonesia 'tertinggal' dari India soal pengenalan motor listrik. Sebab, di Negeri Hidustan, pabrikan Garpu Tala itu sudah mulai menjual kendaraan terkait. Terbaru, Yamaha India menjual EC-06 sebagai motor listrik entry level atau pemula. Kendaraan tersebut meluncur bersamaan dengan produk elektrik lainnya, yakni Aerox EV."Pasti ada hubungannya dengan regulasi di sana, contoh pemerintah sana punya standar emisi yang setara dengan Euro berapa. Hal-hal itu yang membuat transisinya lebih cepat atau bagaimana," ujar Manager Public Relations, YRA & Community YIMM, Rifki Maulana saat ditemui di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat.Yamaha EC-06 Foto: Dok. YamahaKetika ditanya peluang menjadi hub motor listrik di Asia, Rifki belum bisa meresponsnya. Sebab, saat ini pihaknya juga masih dalam tahap wait and see untuk menjual motor listrik di Indonesia."Kalau jadi hub, saya belum bisa jawab karena saya belum tahu. Tapi yang pasti, beberapa produk Yamaha Jepang kan sudah sempat mengaspal di Indonesia, contoh kayak E01, terus yang kita support kerja sama YMC dengan ride-hailing. Itu sudah dijalankan, tapi kalau untuk bisnis, kita masih wait and see," tuturnya."Saat ini market terbesar kita masih dari ICE, kalau dengan kondisi seperti itu masing-masing produsen punya strategi mana yang lebih efisien untuk menjadikan hub. Kalau Yamaha Indonesia kan dipercaya jadi hub global model kan, termasuk motor-motor cc besar," tambahnya.Namun, jika kesempatan itu datang, dia mengaku siap. Selain itu, pabrik di Indonesia juga mau tak mau harus dipersiapkan untuk memproduksi kendaraan ramah lingkungan tersebut."Selama kita mematuhi regulasi yang dibutuhkan, kita harus siap," kata dia.