Pilihan mobil listrik jenis sport utility vehicle (SUV) di Indonesia semakin beragam. Pada 2025, terdapat sembilan SUV listrik baru hadir di pasar Indonesia. Tren tersebut diperkirakan berlanjut pada 2026. Sejumlah model baru telah diperkenalkan sejak awal hingga pertengahan tahun. Konsumen pun memiliki lebih banyak pilihan berdasarkan kebutuhan, mulai dari fungsi kendaraan, jarak tempuh, hingga desain. VinFast menjadi salah satu merek yang memiliki lini SUV listrik, mulai dari mini SUV, SUV kompak, hingga SUV premium seperti VinFast VF 7. Dengan semakin beragam pilihan tersebut, masyarakat dapat menentukan SUV listrik sesuai kebutuhan serta mempertimbangkan nilai lebih yang ditawarkan setiap kendaraan. Harga, biaya perawatan, layanan purnajual, teknologi, hingga biaya kepemilikan dalam jangka panjang juga dapat menjadi pertimbangan. Berdasarkan studi perilaku konsumen yang dilakukan lembaga riset independen Cimigo pada 2024, anggaran menjadi pertimbangan utama bagi 41 persen masyarakat Indonesia ketika membeli mobil. Sementara itu, 25 persen responden mempertimbangkan biaya perawatan berkala. Pertimbangan lain meliputi layanan purnajual, kualitas, teknologi, dan harga jual kembali. Riset Populix bertajuk Electric Vehicle Dynamics: Unveiling Consumer Perspectives and Market Insights pada 2024 juga menunjukkan hasil serupa. Dalam memilih kendaraan listrik, sebanyak 39 persen responden menilai harga mobil listrik yang ideal berada di kisaran Rp 200 juta hingga Rp 300 juta. Selain harga, beberapa pertimbangan responden meliputi biaya perawatan, biaya operasional, fitur fast charging, jarak tempuh, dan fitur keselamatan. Temuan kedua riset tersebut menunjukkan bahwa konsumen tidak hanya mempertimbangkan harga pembelian, tetapi juga nilai yang diperoleh selama kendaraan digunakan. Menimbang biaya kepemilikan SUV listrik Adapun biaya perawatan dan biaya operasional merupakan bagian dari komponen total cost of ownership (TCO) atau total biaya kepemilikan. Selain kedua komponen tersebut, TCO juga meliputi harga beli, pajak, asuransi, dan biaya lain selama kepemilikan. TCO merupakan salah satu aspek penting yang perlu dipertimbangkan sebelum memilih SUV listrik. Rumus sederhana dalam menghitung TCO adalah harga beli + servis dan perawatan + pajak + asuransi + biaya charging + biaya lain – nilai jual kembali. Selain lewat rumus tersebut, TCO bisa dihitung lewat fitur kalkulator yang tersedia, baik oleh pihak ketiga maupun brand kendaraan. VinFast, misalnya, memiliki fitur kalkulasi TCO yang memudahkan konsumen untuk menghitungnya. Untuk memilih jenis SUV listrik dari VinFast, fitur tersebut digunakan untuk menghitung TCO. VinFast VF 7, misalnya, ditawarkan dengan dua pilihan skema kepemilikan baterai, yakni sewa baterai dan pembelian kendaraan beserta baterai. Untuk varian VF 7 Eco, harga promo dengan skema sewa baterai tercatat Rp 427,1 juta dari harga normal Rp 464 juta. Sementara itu, VF 7 Plus ditawarkan dengan harga promo Rp 533,8 juta dari harga normal Rp 580 juta. Adapun harga kendaraan beserta baterai dipatok Rp 519 juta untuk VF 7 Eco dan Rp 645 juta untuk VF 7 Plus. Berdasarkan kalkulasi TCO yang dipublikasikan VinFast, estimasi penggunaan selama empat tahun dengan asumsi jarak tempuh 2.000 kilometer per bulan menghasilkan total biaya kepemilikan Rp 438,02 juta untuk VF 7 Eco. VinFast mengklaim, besaran tersebut menghasilkan penghematan biaya operasional hingga Rp 259,29 juta atau 37 persen ketimbang mobil konvensional bermesin bensin. Sementara itu, penghitungan TCO empat tahun untuk VF 7 Plus mencapai Rp 544,69 juta dengan potensi penghematan hingga 22 persen ketimbang kendaraan bermesin bensin. Biaya pengisian daya Salah satu faktor yang turut memengaruhi biaya operasional dan juga TCO kendaraan listrik adalah pengisian daya. VinFast menyebut pemilik VF 7 mendapatkan fasilitas pengisian daya gratis di seluruh ekosistem SPKLU V-Green hingga Sabtu (31/3/2029). Dengan skema sewa baterai, pemilik VF 7 Eco dikenakan biaya bulanan Rp 1,19 juta, sedangkan VF 7 Plus Rp 1,32 juta. Sebagai perbandingan, VinFast menyebut, pemilik SUV listrik dari brand lain di pasar Indonesia rata-rata perlu mengalokasikan sekitar Rp 5,4 juta hingga Rp 6 juta per tahun untuk pengisian daya listrik. Dengan fasilitas pengisian daya gratis tersebut dan insentif pajak kendaraan listrik dari pemerintah, biaya tahunan VF 7 bisa lebih rendah. Biaya yang tersisa antara lain adalah Pajak Kendaraan Bermotor dan Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ) yang disebut sekitar Rp 143.000 per tahun. Performa dan teknologi VF 7 Selain biaya kepemilikan, VinFast VF 7 menawarkan sejumlah fitur dan teknologi yang menjadi bagian dari pengalaman berkendara. Mobil ini dirancang oleh Torino Design dari Italia dengan bahasa desain Asymmetric Aerospace. VF 7 tersedia dalam beberapa pilihan warna, yakni Urban Mint, Crimson Red, Infinity Blanc, Zenith Grey, dan Jet Black. Dari sisi teknologi, VF 7 Eco dan Plus mendukung pembaruan sistem over-the-air (OTA). Fitur tersebut memungkinkan pembaruan sistem kendaraan dilakukan melalui internet tanpa perlu membawa kendaraan ke dealer. Untuk performa, VF 7 tersedia dengan sistem penggerak all-wheel drive (AWD) pada varian tertentu. Sistem tersebut menghasilkan tenaga hingga 349 HP dan torsi 500 Nm. VinFast VF 7 juga memiliki kabin dengan desain yang berorientasi pada pengemudi serta mendukung pembaruan sistem secara berkala melalui OTA. Mobil listrik tersebut rencananya diproduksi di Subang, Jawa Barat. Di tengah pilihan SUV listrik yang kian beragam di Indonesia, konsumen dapat mempertimbangkan nilai kendaraan secara lebih menyeluruh. Selain harga pembelian, biaya operasional, perawatan, teknologi, performa, hingga skema kepemilikan baterai menjadi sejumlah faktor yang dapat diperhitungkan sebelum membeli. VinFast VF 7 menjadi salah satu model yang menawarkan pilihan tersebut melalui kombinasi fitur, performa, skema baterai, serta fasilitas pengisian daya yang ditawarkan.