PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) menegaskan posisinya untuk tetap berhati-hati dalam mengambil langkah komersialisasi sepeda motor listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia. Keputusan ini didasari belum pastinya respons serta bentuk segmen dari pasar kendaraan listrik roda dua di Tanah Air. Menurut Manajer Public Relations, YRA & Community PT YIMM Rifki Maulana, ketidakpastian arah perkembangan pasar membuat pabrikan memilih untuk terus mendalami perilaku konsumen ketimbang terburu-buru melepas produk massal. "Kita kan juga enggak tahu ke depannya seperti apa kondisi pasar, kemudian segmennya ada atau tidaknya, meningkat atau tidaknya. Jadi kita wait and see respons dari pasar," ujar Rifki di sela acara Yamaha Riding Academy (YRA) Dirt Bike Experience. Motor listrik Yamaha JOG E meluncur di Jepang pada Juli 2026 Riset Kebutuhan dan Evaluasi Segmen EV Penetrasi motor listrik dinilai tidak sekadar menghadirkan produk ke diler, melainkan mengukur sejauh mana kesiapan daya beli dan relevansi penggunaan harian masyarakat. Rifki menegaskan, Yamaha tidak kekurangan lini produk listrik, seperti adanya model skuter NEO'S, E01, hingga Aerox Electric di pasar global. Namun faktor harga jual dan efisiensi operasional menjadi pertimbangan krusial agar produk yang ditawarkan kelak dapat diserap pasar secara nyata. Untuk itu, Yamaha aktif mengumpulkan data operasional di lapangan. Uji coba Proof of Concept (PoC) skuter listrik Yamaha E01 telah melibatkan lebih dari 5.000 responden sejak akhir 2022 di empat kota besar,Jakarta, Bandung, Bali, dan Medan. Langkah evaluasi tersebut dilanjutkan melalui pengujian skuter listrik Yamaha NEO'S berkonsep swap battery (penukaran baterai) yang bermitra dengan pengemudi ojek online (ojol) selama tiga bulan untuk mendalami ketahanan baterai, keandalan fasilitas penukaran, serta pola pemakaian intensif harian. Motor listrik Yamaha Neos di IIMS 2023 Dua Sisi, Regulasi Pemerintah dan Realitas Di sisi lain, YIMM menegaskan komitmennya untuk mendukung peta jalan percepatan elektrifikasi yang dicanangkan pemerintah. Dukungan tersebut dipandang sebagai bagian dari komitmen industri terhadap efisiensi energi dan keberlanjutan lingkungan. "Ya memang kalau pemerintah mencanangkan seperti itu, kita sebagai industri roda dua pasti support-lah. Maksudnya untuk kepentingan secara industri, why not," tutur Rifki. Kendati demikian, Yamaha mengamati bahwa pergerakan tren pasar kendaraan bermotor, baik mesin pembakaran internal (ICE) maupun listrik, sangat bergantung pada variabel ekonomi makro, seperti tingkat inflasi dan kekuatan ekonomi di daerah penunjang. Gambar paten motor listrik Yamaha terbaru Karena itu, kepastian mengenai terbentuknya segmen motor listrik yang solid masih membutuhkan waktu dan evaluasi bertahap.