Sepeda motor listrik menawarkan beragam keunggulan, mulai dari efisiensi biaya operasional, penyaluran tenaga dan torsi instan, kemudahan pengisian daya di rumah, hingga biaya perawatan yang minim. Meski demikian, harga unit baru motor listrik yang masih tergolong cukup mahal membuat populasinya belum sebanyak motor bermesin pembakaran internal (bensin). Sebagai solusi, berburu motor listrik bekas menjadi alternatif rasional karena depresiasi harganya yang cukup dalam walau usia pemakaian tergolong muda. Motor listrik bekas Namun, membeli motor listrik bekas tidak semudah berburu motor bensin. Diler kendaraan bekas umum yang menyediakan unit motor listrik masih sangat terbatas. Alhasil, calon pembeli harus mencari sendiri melalui marketplace daring atau menyambangi bengkel spesialis. Saluran Penjualan Abdullah, pemilik bengkel spesialis motor listrik Dolland Motor Electric di Kalimalang, menjelaskan bahwa transaksi motor listrik bekas saat ini masih mengandalkan platform media sosial serta jaringan komunitas. “Kalau jual motor listrik bekas biasanya di marketplace Facebook, OLX, atau ada juga yang menitipkan di bengkel. Kadang ada konsumen yang bosan atau mau kembali ke motor bensin, minta tolong dijualkan dan kami terima,” ujar Abdullah kepada Kompas.com, Senin (21/9/2026). Motor listrik bekas Meski demikian, bengkel tidak asal menerima semua unit untuk dititipkan. Abdullah memprioritaskan model-model yang memiliki daya serap pasar tinggi. Jika unit tergolong langka, penawaran dilakukan secara bertahap melalui grup komunitas pengguna hingga grup antar-bengkel. “Yang paling laku saat ini Polytron Fox R, Fox 350, atau model Yadea seperti T9. Secara umum, unit dengan harga di bawah Rp 10 juta yang paling cepat terjual. Kalau harganya di atas Rp 10 juta, konsumen masih berpikir dua kali, kecuali mereka yang benar-benar siap beralih ke motor listrik,” kata Abdullah. Beban Biaya Perbaikan Jadi Alasan Penjualan Selain karena keinginan berganti kendaraan, transaksi motor listrik bekas di bengkel spesialis juga sering kali berawal dari kendala teknis yang dihadapi pemiliknya, terutama terkait sektor baterai. Hernest, pemilik bengkel Battery Electric Motion di Bogor, mengungkapkan bahwa tidak sedikit konsumen yang memilih menjual unitnya lantaran terbentur tingginya estimasi biaya penggantian komponen. “Awal mulanya sering kali dari perbaikan. Pemilik membawa motor seperti Uwinfly T3 yang baterai bawaannya jenis Sealed Lead-Acid (SLA) dalam kondisi sudah kembung atau mati. Ketika diberi estimasi biaya upgrade ke baterai lithium sekitar Rp 4,5 juta, mereka mulai berhitung,” ucap Hernest kepada Kompas.com. Pilihan mengganti dengan baterai SLA baru memang lebih murah, yakni di kisaran Rp 2,3 juta sampai Rp 2,5 juta. Namun, dengan usia pakai SLA yang relatif singkat (1–2 tahun) dibandingkan lithium (4–5 tahun), konsumen kerap merasa enggan mengeluarkan biaya perbaikan berulang. Motor listrik bekas “Karena pertimbangan biaya perbaikan yang lumayan besar, akhirnya banyak yang memutuskan untuk menjual motornya ke bengkel. Dalam kondisi mati, biasanya kami hargai di bawah Rp 2,5 juta," kata Hernest. Jadi untuk saat ini, pasar motor listrik bekas memang belum seluas motor bensin. Tapi pencarian unit bisa menyesuaikan kebutuhan, mau kondisinya mati atau sudah di-upgrade pun tersedia.