Ketiadaan standar sertifikasi kesehatan baterai (state of health) yang resmi dan terpercaya menjadi alasan utama pasar sepeda motor listrik bekas di Indonesia belum terbentuk secara transparan. Pengamat Otomotif Yannes Martinus menjelaskan, belum adanya standar penilaian untuk komponen termahal pada kendaraan listrik tersebut membuat calon pembeli maupun pedagang motor bekas berada dalam ketidakpastian. "Selama pasar bekas motor listrik belum dalam dan belum ada standar sertifikasi kesehatan baterai yang dipercaya, konsumen tetap ragu," ujar Yannes saat dihubungi Kompas.com belum lama ini. Ilustrasi motor listrik bekas Penentu Utama Nilai Jual Kembali Yannes menegaskan, tanpa adanya sertifikasi baterai yang dapat diakses publik, pasar sekunder tidak memiliki acuan objektif untuk menaksir kualitas dan performa motor listrik bekas. Dampaknya, nilai jual kembali kendaraan menjadi sangat liar dan tidak pasti. "Harga baru yang murah saja belum cukup jika nilai jual kembalinya masih tidak pasti," tegas Yannes. Ketiadaan sertifikasi ini memukul langsung sudut pandang keuangan konsumen segmen middle-low, yang selama ini menjadikan kepastian harga bekas sebagai syarat utama sebelum membeli sepeda motor. "Nilai jual kembali (residual value) masih menjadi kendala paling krusial karena motor sering dianggap aset yang bisa dicairkan cepat," lanjutnya. Efek Domino ke Penilaian Kredit Bukan hanya meragukan calon pembeli, ketiadaan sertifikasi kondisi baterai bekas ini juga membuat lembaga pembiayaan (multifinance) enggan mengambil risiko. Pihak kredit kesulitan menentukan nilai agunan jika terjadi kredit macet di kemudian hari. "Perusahaan pembiayaan menetapkan DP, bunga, dan tenor berdasarkan nilai agunan yang bisa dieksekusi kalau macet. Tanpa pasar bekas yang likuid, unit tarikan tidak punya harga. Konsekuensinya multifinance menolak, atau menuntut DP dan bunga yang lebih tinggi," jelas Yannes. Sebab itu, menghadirkan instrumen tes dan sertifikasi kesehatan baterai yang tepercaya menjadi fondasi awal yang harus disiapkan industri sebelum berharap adopsi motor listrik meluas di masyarakat.