Peneliti senior dari Pusat Sistem Transportasi Berkelanjutan Institut Teknologi Bandung (ITB), Agus Purwadi meminta pemerintah untuk mengevaluasi kebijakan kendaraan listrik secara dinamis. Pasalnya, pertumbuhan kendaraan listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) di Indonesia belum sepenuhnya diimbangi penguatan basis industri dalam negeri. Bahkan berpotensi menekan ekosistem yang sudah ada. Menurut Agus, skema insentif dan aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) saat ini justru membuat pemain baru relatif mudah masuk tanpa mendorong investasi yang lebih dalam. Pabrik mobil PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Karawang, Jawa Barat. “Berdasarkan hitung-hitungan, itu assembly saja sudah 30 persen. RnD meski baru janji, sudah dihitung 10 persen. Sehingga sangat mudah untuk memenuhi klaim TKDN 40 persen, padahal tidak ada lokalisasi di situ (komponen masih pakai negara asal)," kata dia di Jakarta, Selasa (14/4/2026). "Sementara produsen eksisting yang sudah lokalisasi, melibatkan industri lokal, tergerus karena kebijakannya lebih condong untuk merangsang investasi baru seperti itu," lanjut Agus. Ia menjelaskan, kondisi tersebut membuat sebagian besar aktivitas industri masih bertumpu pada perakitan, sementara komponen utama tetap berasal dari negara asal. Di sisi lain, situasi ini juga berpotensi memicu kanibalisasi pasar, terutama terhadap pemain lama berbasis mesin pembakaran internal (ICE) yang tidak mendapatkan insentif serupa. “Thailand bisa mejadi leason learn berharga. Mereka sudah menghadapi masalah di otomotifnya, banyak pabrik-pabrik yang tutup karena terjadi kanibalisasi. Produk baru bukan menambah pasar, tapi justru menggerus yang lama,” katanya. Menurut dia, kondisi tersebut perlu diantisipasi agar tidak terjadi di Indonesia, terlebih saat daya beli masyarakat sedang tertekan. “Market kita ini sekarang memang tidak baik-baik saja. Daya beli menurun, jadi kalau ada produk baru, apalagi dengan insentif besar, itu bisa menggerus pasar yang sudah ada,” ujar Agus. Ia mengingatkan, tanpa evaluasi kebijakan, industri eksisting berpotensi melemah, sementara pemain baru belum tentu segera membangun basis produksi yang kuat di dalam negeri. Sebagai perbandingan, Agus menyebut India dan Vietnam relatif lebih berhasil menjaga keseimbangan antara elektrifikasi dan penguatan industri lokal. Ilustrasi penjualan mobil “India dan Vietnam cenderung berhasil karena mereka punya basis lokal industri, baik domestik maupun kolaborasi dengan pemain global, jadi tidak sekadar jadi pasar,” ucapnya. Oleh karena itu, ia menegaskan kebijakan kendaraan listrik tidak bisa bersifat statis dalam jangka panjang. “Ini harus dievaluasi secara dinamis. Dulu insentif diberikan untuk mendorong tahap awal, sekitar 5 persen early adopter. Sekarang sudah lewat (10 persen lebih), jadi harus dilihat kembali,” kata Agus. Ia menekankan, evaluasi tersebut penting agar kebijakan elektrifikasi tidak hanya mendorong penjualan, tetapi juga memperkuat daya saing industri otomotif nasional. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang