Rencana impor kendaraan operasional untuk program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) memicu kekhawatiran terhadap potensi hilangnya nilai tambah ekonomi dalam jumlah besar. Menteri Perindustrian RI Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut, jika pengadaan 70.000 unit pikap 4x2 dipenuhi dari produksi dalam negeri, dampak ekonomi (backward linkage) yang dihasilkan dapat mencapai sekitar Rp 27 triliun. Hasil itu karena produksi lokal tidak hanya memenuhi kebutuhan kendaraan, tetapi juga menggerakkan berbagai subsektor industri seperti ban, kaca, baterai, logam, plastik, kabel, hingga elektronik, sekaligus memperluas penyerapan tenaga kerja. Isuzu All New MU-X 4x4 dan mobil pick up double cabin Isuzu D-Max 4x4. “Apabila seluruh kebutuhan kendaraan pick-up dipenuhi melalui impor, maka nilai tambah ekonomi dan penyerapan tenaga kerja akan dinikmati industri di luar negeri," katanya dalam keterangan tertulis, Jumat (20/2/2026). "Namun, apabila kebutuhan tersebut dapat dipenuhi oleh industri dalam negeri, maka manfaat ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan industri nasional juga akan dirasakan di dalam negeri,” ujar Agus. Saat ini, industri otomotif nasional memiliki kapasitas produksi pikap sekitar 1 juta unit per tahun dan dinilai mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik dengan kualitas yang kompetitif. Sejalan dengan hal tersebut, Perkumpulan Industri Kecil dan Menengah Komponen Otomotif (PIKKO) menyatakan dukungan terhadap program pemerintah, namun menyayangkan rencana impor kendaraan operasional secara penuh. Pabrik mobil PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Karawang, Jawa Barat. PIKKO menilai, dengan tingkat utilisasi industri komponen yang masih berada di kisaran 60–70 persen, impor kendaraan utuh berpotensi menimbulkan disrupsi terhadap keberlangsungan ekosistem industri otomotif nasional. Serta, berdampak pada sekitar 6.000 tenaga kerja di sepanjang rantai pasok. “Kami memahami bahwa kebutuhan ini sangat mendesak tetapi pengadaannya untuk tidak 100 persen mengimpor kendaraan dari negara India mengingat kemampuan industri otomotif dan komponen otomotif dalam negeri sudah sangat mumpuni," ucap Ketua PIKKO Rosalina Faried. "Kami khawatir hal tersebut membuat dampak ekonomi tidak bagus terhadap keberlangsungan ekosistem industri otomotif,” tambah dia. PIKKO juga menilai rencana pengadaan 105.000 unit kendaraan operasional oleh PT Agrinas Pangan Nusantara untuk KDKMP seharusnya dapat menjadi peluang bagi industri komponen lokal. Dengan sinergi yang baik, kebutuhan tersebut dinilai dapat dipenuhi secara bertahap dalam waktu 1–2 tahun dengan kapasitas produksi 5.000–10.000 unit per tahun. Di tengah kondisi industri otomotif yang masih lesu, PIKKO berharap pemerintah bisa membatasi jumlah kendaraan yang diimpor, sehingga produsen dalam negeri tetap memiliki kesempatan menjadi pemasok kebutuhan kendaraan operasional program KDKMP. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang