Kesepakatan Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) membawa konsekuensi langsung terhadap kebijakan bahan bakar nasional. Melalui perjanjian tersebut, Indonesia harus membuka akses sekaligus memastikan masuknya bioetanol asal AS ke pasar domestik. Ketentuan ini tertuang dalam Article 2.23: Bioethanol yang menyatakan Indonesia tidak boleh mengadopsi atau mempertahankan kebijakan yang dapat mencegah impor bioetanol dari Amerika Serikat. Kemenhut meresmikan projek pilot bioetanol dari aren Pertamina NRE. Dengan kata lain, seluruh regulasi domestik tidak boleh menjadi hambatan bagi produk bioetanol asal Negeri Paman Sam. Tidak hanya membuka pasar, perjanjian tersebut juga mengaitkan kebutuhan bioetanol dengan kebijakan energi nasional. Indonesia berkomitmen menjalankan program pencampuran bioetanol dalam bahan bakar transportasi, yaitu campuran bensin dengan 5 persen etanol (E5) selambatnya pada 2028 dan meningkat menjadi 10 persen (E10) pada 2030. Dalam pasal yang sama, pemerintah juga akan mengupayakan peningkatan campuran hingga 20 persen (E20), dengan mempertimbangkan ketersediaan pasokan serta kesiapan infrastruktur pendukung. Kewajiban terkait impor ditegaskan lebih lanjut dalam Annex IV: Purchase Commitments, di mana Indonesia diminta mendukung dan memfasilitasi pengaturan komersial untuk impor etanol asal AS. Secara spesifik, Indonesia harus memastikan volume impor etanol dari AS mencapai lebih dari 1.000 metrik ton per tahun. Indonesia will eliminate tariff barriers on 99% of U.S. products, ranging from U.S. agricultural goods and automotive products to seafood and health products. pic.twitter.com/RmP24ZRQgC — United States Trade Representative (@USTradeRep) February 20, 2026 Meski terdapat catatan bahwa kekurangan volume tak dianggap pelanggaran selama tidak ada hambatan perdagangan dari pihak Indonesia, ketentuan ini menegaskan arah kebijakan bahwa pasar domestik harus terbuka dan menyerap pasokan bioetanol dari AS. Di balik kewajiban membuka impor bioetanol, pemerintah menilai ART memberikan keuntungan signifikan bagi perdagangan Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, sebanyak 1.819 pos tarif produk Indonesia akan mendapatkan tarif nol persen di pasar AS. Produk tersebut mencakup sektor pertanian dan industri, seperti minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, hingga komponen pesawat terbang. "Perjanjian ini akan berlaku 90 hari setelah proses hukum diselesaikan kedua belah pihak, baik di Indonesia melalui konsultasi dengan DPR maupun di Amerika dengan proses internalnya,” ujar Airlangga dalam konferensi pers dikutip Sabtu (20/2/2026). "Tujuan perjanjian ini juga untuk mencapai Indonesia Emas, sehingga disebut sebagai new golden age bagi Indonesia maupun Amerika Serikat," tutupnya. Kandungan etanol dalam BBM Pertamina mencapai 5 persen, etanol adalah salah satu jenis alkohol. Target Penerapan Bioethanol ESDM Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan, implementasi kebijakan mandatori bioetanol ditargetkan mulai berlaku paling lambat pada 2028. “Roadmap-nya lagi dibuat. Tapi saya pastikan paling lambat 2028 sudah ada mandatori. Mungkin 2027–2028, roadmap-nya sebentar lagi selesai,” ujar Bahlil dalam konferensi pers Capaian Kinerja Kementerian ESDM 2025 pada Selasa (12/1/2026) lalu. Pengembangan bioetanol diposisikan sebagai strategi jangka menengah sektor bensin, mengikuti keberhasilan program biodiesel yang mampu menekan impor solar. Ke depan, pemerintah menilai penerapan E10 berpotensi menghemat impor bensin hingga 3,9 juta kiloliter per tahun. "Melalui penerapan E10 kita dapat menghemat impor hingga 3,9 juta kl per tahun, dan melalui pengembangan kilang selanjutnya kita dapat menyetop impor bensin RON 92, 95, dan 98 serta mengurangi impor bensin RON 90," ujar Bahlil. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang