Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) berharap pemerintah kembali memberikan stimulus untuk kendaraan berteknologi hybrid. Permintaan tersebut muncul di tengah tren penjualan mobil hybrid yang terus menunjukkan pertumbuhan. Namun demikian, pemerintah justru memberikan sinyal bahwa insentif tambahan untuk mobil hybrid belum menjadi prioritas. Vice Chairman Market Development Gaikindo Jongkie D. Sugiarto mengatakan, sepintas memang kelihatannya penjualan mobil hybrid cukup positif. "Tapi kan kita katanya mau lebih banyak lagi. Ayo, gitu aja. Kalau lebih banyak lagi, ya harus ada stimulus yang membuat itu bisa dibeli orang,"' ujar Jongkie, kepada wartawan, saat ditemui di GIIAS 2026, di ICE BSD, Sabtu (8/8/2026). Xforce Hybrid GIIAS 2026 Menurut Jongkie, stimulus dibutuhkan agar harga mobil hybrid bisa semakin terjangkau bagi masyarakat. Dengan begitu, teknologi elektrifikasi tersebut diharapkan bisa menjangkau konsumen yang lebih luas. "Makin terjangkau kan? Kan gitu. Belum tahu (skemanya). Makanya, kita serahkan 100 persen semuanya kepada pemerintah saja," kata Jongkie. Pemerintah Nilai Hybrid Sudah Berkembang Pernyataan Gaikindo tersebut berhadapan dengan pandangan pemerintah mengenai kondisi industri mobil hybrid saat ini. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya memberikan sinyal bahwa pemerintah belum melihat kebutuhan untuk kembali memberikan insentif khusus bagi mobil hybrid. Civic e:HEV Airlangga mengatakan, salah satu tujuan pemberian insentif adalah mendorong produksi nasional, investasi, serta meningkatkan daya beli masyarakat. Menurut dia, tujuan tersebut sudah tercapai pada industri mobil hybrid. "Karena sudah jalan, insentifnya sudah full. Kan insentif diberikan untuk produksi nasional, dan ini produksinya sudah produksi nasional, bahkan diekspor," ujar Airlangga di ICE BSD City, Tangerang, Jumat (7/8/2026). Kondisi pasar juga menjadi pertimbangan. Berdasarkan data wholesales Januari-Juni 2026, penjualan mobil hybrid tercatat 42.366 unit. Angka tersebut meningkat sekitar 45 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 28.817 unit. Intelligent Dual Mode diterapkan pada JETOUR T1 i-DM dan JETOUR T2 i-DM. Airlangga menilai pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa pasar mobil hybrid sudah terbentuk meski tidak mendapatkan insentif PPnBM seperti yang pernah diberikan pada 2025. "Produksi sudah bagus, kenaikan (penjualan mobil hybrid) sudah 45 persen. Tujuan pemerintah menaikkan lokal konten sudah tercapai," ujar Airlangga. Pada kesempatan lain di GIIAS 2026, Airlangga juga menyebut mobil hybrid masih menjadi solusi bagi masyarakat di tengah infrastruktur kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) yang belum sepenuhnya merata. Land Cruiser 300 Hybrid resmi hadir di Indonesia pada ajang GIIAS 2026, Selasa (29/7/2026). “Penjualan hybrid naik, karena dengan infrastruktur terbatas, hybrid jadi solusi. Karena insentifnya sudah penuh, karena insentif diberikan untuk produksi nasional,” ujarnya saat ditemui awak media, Sabtu (8/8/2026). Gaikindo Dorong Akselerasi Elektrifikasi Meski demikian, Gaikindo melihat masih ada ruang untuk meningkatkan penetrasi kendaraan elektrifikasi, termasuk mobil hybrid. Jongkie menilai, apabila pemerintah memang ingin mempercepat adopsi kendaraan elektrifikasi, maka stimulus menjadi salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk membuat harga kendaraan lebih terjangkau. Lexus Indonesia meluncurkan dua model sedan terbaru, ES350 hybrid dan ES350e (listrik) di GIIAS 2026. "Saya bilang kan kita mau, katanya mau lebih lebih cepat lagi. Ya, kan tujuannya memang Perpres No. 55 begitu. Perpres 55 kan bunyinya apa? Akselerasi daripada elektrifikasi, ya itu," ujarnya. Perpres Nomor 55 Tahun 2019 sendiri mengatur mengenai percepatan program kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) untuk transportasi jalan. Aturan tersebut kemudian diubah melalui Perpres Nomor 79 Tahun 2023. Bagi industri, stimulus dinilai dapat menjadi salah satu cara untuk mempercepat perpindahan konsumen dari kendaraan konvensional menuju kendaraan yang lebih rendah emisi. Sementara itu, pemerintah saat ini lebih menekankan bahwa dukungan yang telah diberikan kepada industri hybrid sudah mampu mendorong produksi dalam negeri. Bahkan, sebagian kendaraan hybrid yang diproduksi di Indonesia telah diekspor ke sejumlah negara. Perbedaan pandangan tersebut membuat kebijakan insentif mobil hybrid kembali menjadi perhatian industri otomotif. komparasi Mobil Listrik Rp 200 Jutaan Gaikindo berharap stimulus baru dapat membuat harga kendaraan hybrid semakin kompetitif, sedangkan pemerintah menilai pertumbuhan pasar dan produksi nasional menunjukkan bahwa industri tersebut sudah dapat berkembang tanpa tambahan insentif. Dengan penjualan yang tumbuh 45 persen pada semester pertama 2026, perkembangan pasar mobil hybrid selanjutnya akan menjadi salah satu indikator apakah stimulus tambahan memang diperlukan untuk memperluas adopsinya atau justru pasar dinilai sudah mampu tumbuh secara mandiri.