Perubahan kebijakan pajak kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi diperkirakan akan menggeser preferensi konsumen di pasar otomotif nasional, khususnya ke mobil hybrid. Di tengah tekanan daya beli dan ketidakpastian insentif, kendaraan hybrid (hybrid electric vehicle atau HEV) dinilai menjadi opsi paling rasional bagi konsumen yang menginginkan efisiensi tanpa harus sepenuhnya beralih ke BEV. Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, mengatakan segmen kendaraan penumpang saat ini sedang mengalami perlambatan, terutama di kelas entry level. Mobil hybrid Rp 300 jutaan “Di segmen mobil penumpang yang lesu darah, kendaraan HEV entry level akan mengambil alih posisi sebagai sweet spot pelarian paling logis bagi konsumen yang terdesak ingin irit bensin tapi masih ragu ke BEV,” ujar Yannes kepada Kompas.com, Minggu (19/4/2026). Menurut dia, perubahan kebijakan pajak kendaraan listrik melalui Permendagri Nomor 11 Tahun 2026 menjadi faktor penting yang memengaruhi arah pasar. Dalam aturan itu, kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) tidak lagi otomatis mendapatkan pembebasan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB). Berbeda dengan regulasi sebelumnya (Permendagri 7/2025), di mana kendaraan berbasis energi terbarukan, termasuk mobil listrik, secara tegas dikecualikan dari objek pajak. Sehingga tarif dan insentif pajak kendaraan listrik kini bergantung pada kebijakan masing-masing pemerintah daerah, baik berupa pembebasan penuh, pengurangan, maupun tanpa insentif sama sekali. Kondisi tersebut membuat harga kendaraan listrik berpotensi bervariasi antarwilayah, sekaligus menambah ketidakpastian bagi konsumen. “Dengan kenaikan harga yang begitu variatif di berbagai provinsi terhadap BEV, harga BEV yang TKDN-nya rendah akan naik kecuali para pabrikan segera percepat produksi lokal dengan TKDN yang diperbesar demi menekan harga jual BEV mereka di pasar lokal kita,” kata Yannes. Ia menjelaskan, tanpa percepatan produksi lokal, kendaraan listrik akan semakin sulit bersaing di segmen ritel, terutama saat konsumen semakin sensitif terhadap harga. Ilustrasi baterai mobil hybrid. Di sisi lain, mobil hybrid dinilai memiliki posisi yang lebih fleksibel karena tidak sepenuhnya bergantung pada insentif fiskal, tetapi tetap menawarkan efisiensi bahan bakar. Kombinasi mesin bensin dan motor listrik membuat konsumsi BBM lebih hemat tanpa mengubah kebiasaan penggunaan kendaraan secara drastis, seperti kebutuhan pengisian daya atau infrastruktur charging. Dalam situasi harga BBM yang meningkat, karakter ini menjadi nilai tambah bagi konsumen yang mencari efisiensi jangka panjang dengan risiko yang lebih rendah dibandingkan BEV. “Intinya, pasar retail akan semakin ditopang oleh pembelian kelas menengah atas dan korporasi ya Mas,” ujarnya. Artinya, segmen menengah bawah yang selama ini menjadi tulang punggung penjualan berpotensi semakin tertekan, sementara pembelian akan lebih banyak datang dari konsumen dengan daya beli lebih kuat serta kebutuhan operasional bisnis. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang