Mobil listrik Honda e:N1 Honda menghadapi tekanan besar dari bisnis mobil listrik global. Pabrikan asal Jepang itu bahkan memperkirakan potensi kerugian hingga 2,5 triliun yen atau setara sekitar Rp275 triliun akibat perubahan strategi elektrifikasi dan pembatalan sejumlah proyek kendaraan listrik. Situasi tersebut muncul setelah Honda memutuskan menghentikan pengembangan sekaligus peluncuran tiga model mobil listrik yang sebelumnya direncanakan diproduksi di Amerika Utara. Ketiga model tersebut adalah Honda 0 SUV, Honda 0 Saloon, dan Acura RSX. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Dalam pernyataan resmi perusahaan yang dilihat VIVA Otomotif Sabtu 16 Mei 2026, Honda mengakui kondisi pasar mobil listrik saat ini berubah cukup drastis dibanding beberapa tahun lalu. Permintaan EV di Amerika Serikat disebut melambat setelah adanya perubahan kebijakan dan pelonggaran regulasi terkait kendaraan berbahan bakar fosil.Selain itu, Honda juga mengaku mulai kehilangan daya saing di pasar Asia, khususnya China. Persaingan dengan merek-merek EV baru dari China disebut semakin berat karena para kompetitor mampu menghadirkan produk dengan teknologi perangkat lunak dan fitur digital lebih cepat.Honda menilai perusahaan belum mampu menawarkan mobil listrik dengan value for money yang lebih baik dibanding pemain baru di China. Kondisi tersebut akhirnya berdampak pada penurunan daya saing dan profitabilitas bisnis otomotif mereka.Tak hanya menghentikan proyek mobil listrik, Honda juga memperkirakan munculnya berbagai beban biaya tambahan. Mulai dari penghapusan aset produksi, biaya pembatalan pengembangan kendaraan, hingga penurunan nilai investasi di China.Untuk tahun fiskal yang berakhir Maret 2026, Honda memperkirakan biaya operasional tambahan mencapai 820 miliar yen hingga 1,12 triliun yen. Selain itu, ada pula potensi kerugian investasi senilai 110 miliar yen hingga 150 miliar yen.Jika digabung dengan potensi kerugian lanjutan pada tahun fiskal berikutnya, total kerugian maksimal yang diperkirakan Honda bisa mencapai 2,5 triliun yen. Angka tersebut menjadi salah satu dampak terbesar dari evaluasi ulang strategi kendaraan listrik perusahaan.Meski demikian, Honda menegaskan tidak akan meninggalkan elektrifikasi sepenuhnya. Perusahaan kini justru memilih memperkuat mobil hybrid sambil menyesuaikan investasi EV dengan kondisi pasar global. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Honda juga akan memperkuat pasar India dan negara-negara Asia lainnya melalui model hybrid generasi terbaru. Strategi tersebut dinilai lebih realistis di tengah perlambatan pertumbuhan pasar mobil listrik global.Di sisi lain, Honda masih mengandalkan bisnis sepeda motor dan layanan finansial sebagai penopang utama perusahaan. Dua sektor tersebut dinilai masih memiliki kemampuan menghasilkan keuntungan dan arus kas yang stabil di tengah tekanan bisnis otomotif global.