Saat terjadi kecelakaan, kecepatan kendaraan baik mobil atau sepeda motor sering menjadi salah satu hal yang langsung diperhatikan. Misalnya mobil melaju 80 km/jam sebelum menabrak. Dari angka tersebut, banyak yang kemudian mencoba memperkirakan seberapa parah kecelakaan yang terjadi. Namun, rupanya kecepatan kendaraan sebelum kecelakaan tidak selalu menggambarkan seberapa keras benturan yang dialami. Dilansir dari bvlawsf, dalam keselamatan kendaraan dan rekonstruksi kecelakaan, ada istilah Delta-V yang digunakan untuk membantu melihat tingkat keparahan sebuah tabrakan. Delta-V Sederhananya, Delta-V adalah perubahan kecepatan kendaraan akibat benturan. Kecelakaan mobil yang ditumpangi 2 WNA di Desa Kalianget, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, Bali, Selasa (2/6/2026). Agar lebih mudah dipahami, misalnya sebuah mobil melaju dengan kecepatan 50 km/jam. Mobil tersebut kemudian menabrak benda yang membuatnya berhenti dalam waktu sangat singkat. Dalam kondisi tersebut, terjadi perubahan kecepatan yang besar, dari 50 km/jam menjadi hampir 0 km/jam. Sebaliknya, mobil lain melaju 80 km/jam dan hanya menyerempet kendaraan lain. Setelah benturan, mobil masih melaju dengan kecepatan 70 km/jam. Meski kecepatan awal mobil kedua lebih tinggi, perubahan kecepatannya hanya sekitar 10 km/jam. Dari contoh sederhana tersebut, Delta-V mobil pertama lebih besar. Itulah mengapa Delta-V tidak sama dengan kecepatan kendaraan ketika kecelakaan terjadi. Sebuah mobil Brio, saat menabrak dua sepeda motor dan menerobos menabrak Indomaret di wilayah Entrop, Distrik Jayaprua Selatan, Kota Jayapura, Papua. Sopir panik dan tabrak pedal gas, sehingga menabrak juga pengendara sepeda motor. Seberapa Penting? Delta-V digunakan untuk membantu menggambarkan seberapa besar perubahan gerakan kendaraan saat mengalami kecelakaan. Ketika kendaraan mengalami perubahan kecepatan yang sangat besar dalam waktu singkat, kendaraan dan penumpang juga mengalami perlambatan yang lebih besar. Karena itu, Delta-V menjadi salah satu parameter yang digunakan dalam penelitian keselamatan kendaraan dan rekonstruksi kecelakaan. Namun, Delta-V bukan satu-satunya faktor yang menentukan tingkat keparahan kecelakaan.