Biaya perbaikan interior mobil kerap berbeda-beda, tergantung jenis dan asal kendaraan. Salah satu yang sering dikeluhkan pemilik adalah mahalnya biaya pengerjaan untuk mobil asal Eropa dibanding Jepang. Perbedaan ini bukan tanpa alasan. Selain faktor material, tingkat kesulitan pengerjaan dan risiko kerusakan komponen juga menjadi pertimbangan utama. Juan Elian, Owner Masterpiece Auto Interior, menjelaskan bahwa proses pembongkaran interior mobil Eropa umumnya lebih kompleks. “Misalnya mau buka dasbor, sebelum kita buka, beberapa part harus dilepas dulu. Jadi memang harus dibongkar cukup banyak,” kata Juan, saat ditemui Kompas.com, di Jakarta Barat, belum lama ini. Menurut dia, proses tersebut meningkatkan risiko kerusakan pada komponen, terutama jika material sudah mengalami keausan. “Dalam proses pembukaan bisa saja ada yang patah atau rusak dan tidak bisa diperbaiki. Akhirnya harus ganti part baru,” ujarnya. BMW i7 Komponen pengganti inilah yang kemudian menambah biaya, apalagi untuk mobil Eropa yang umumnya memiliki harga suku cadang lebih tinggi. Juan mengatakan, bengkel juga harus memperhitungkan risiko tersebut dalam menentukan biaya jasa. “Karena kita perlu hitung waktu dan risiko. Kalau bengkel merusakkan, pasti harus tanggung jawab untuk memperbaiki,” kata dia. Risiko yang tinggi ini membuat pengerjaan interior mobil Eropa membutuhkan ketelitian ekstra, sekaligus berdampak pada biaya yang lebih mahal. Sebaliknya, pada mobil Jepang, konstruksi interior dinilai lebih sederhana dan relatif mudah dibongkar pasang, sehingga risiko kerusakan komponen lebih kecil. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang