Pemandangan kemacetan panjang di ruas jalan tol akibat adanya proyek perbaikan jalan seolah menjadi menu harian bagi para pengemudi. Uniknya, kemacetan tersebut biasanya langsung terurai dan lalu lintas kembali lancar setelah kendaraan berhasil melewati titik perbaikan. Banyak yang beranggapan bahwa penyempitan lajur atau bottleneck adalah penyebab tunggal. Namun, ada faktor perilaku pengemudi yang justru menjadi pemicu utama kemacetan menjadi berkali-kali lipat lebih parah. Penyempitan jalan dari kondisi normal di KM 38 menjadi penyebab kemacetan di Tol Jakarta-Cikampek, Sabtu (9/6/2018). Jusri Pulubuhu, Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), menjelaskan bahwa bottleneck memang menghambat arus kendaraan karena adanya pengurangan kapasitas lajur, namun, situasi diperparah oleh rendahnya kedisiplinan pengguna jalan. "Bottleneck ini kemacetan yang terjadi ini semakin parah ketika para pengguna jalan tidak disiplin. Mereka berebutan mencoba memasuki lubang bottleneck tadi," ujar Jusri kepada Kompas.com Selasa (21/4/2026). Menurut Jusri, di Indonesia masih banyak pengemudi yang belum memahami atau menerapkan pola Zipper Merge atau metode ritsleting saat menghadapi penyempitan jalan. "Kalau di sini kan dia tidak mengerti pola metodologi yang namanya zipper tadi, yang bisa menguraikan kemacetan. Karena awareness atau kesadaran masyarakat pengguna jalan di Indonesia ini rendah," kata Jusri. Metode zipper ini sebenarnya cukup sederhana jika dipraktikkan dengan benar. Pengemudi dari lajur yang menyempit dan lajur utama seharusnya masuk ke titik penyempitan secara bergantian, layaknya gerigi pada ritsleting. "Jadi misalnya nih, kanan masuk duluan. Habis itu, yang kanan akan berhenti untuk kendaraan yang kedua, memberi kesempatan yang kiri untuk masuk. Bergantian," ucapnya. Sayangnya, perilaku saling serobot dan enggan memberi jalan membuat arus kendaraan terkunci di mulut bottleneck. Hal inilah yang menjelaskan mengapa setelah melewati titik perbaikan, jalanan tiba-tiba menjadi sangat lancar, karena hambatan utamanya bukanlah volume kendaraan, melainkan ketidakteraturan di titik penyempitan tersebut. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang