Ketidakstabilan ekonomi global yang belum mereda rupanya turut memberi tekanan pada industri otomotif, termasuk pasar Indonesia. Faktor seperti suku bunga yang masih relatif tinggi serta ketidakpastian ekonomi membuat sebagian konsumen cenderung menahan belanja besar, termasuk pembelian kendaraan di segmen premium. Meski demikian, Mercedes-Benz Indonesia menilai situasi tersebut tidak serta-merta menjadi penghambat utama. Pasar kendaraan premium dinilai memiliki karakter berbeda dibandingkan segmen kendaraan massal yang sangat sensitif terhadap harga dan insentif. Ikatan Emosional Chief Executive Officer (CEO) Mercedes-Benz Indonesia, Donald Rachmat, mengatakan keputusan membeli mobil premium tidak selalu didasarkan pada pertimbangan rasional semata, seperti kondisi ekonomi atau kebutuhan mobilitas. “Dalam situasi ekonomi yang belum stabil, penundaan pembelian memang bisa terjadi. Namun, ada faktor lain di luar fungsi kendaraan itu sendiri. Merek kami memiliki ikatan emosional yang sangat kuat dengan para pemiliknya,” ujar Donald saat ditemui di Jakarta, Selasa (3/2/2026). Mercedes-Benz S-Class jadi laboratorium inovasi, tempat teknologi keselamatan dan kenyamanan pertama kali diperkenalkan. Tekanan di pasar mobil mewah sendiri tecermin dari data penjualan. Berdasarkan catatan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan ritel mobil mewah pada Oktober 2025 tercatat hanya 391 unit. Angka tersebut turun cukup tajam dibandingkan September 2025 yang masih mencapai 588 unit, atau melemah sekitar 33 persen. Mercedes-Benz EQG 580 Edition One Permintaan di Segmen Premium Menurut Donald, permintaan di segmen premium tidak hanya ditentukan oleh kebutuhan fungsional, tetapi juga oleh hubungan emosional yang terbangun antara konsumen dan merek. Ikatan tersebut diyakini mampu meredam dampak fluktuasi ekonomi terhadap minat beli, berbeda dengan pasar kendaraan massal yang lebih mengedepankan efisiensi dan pertimbangan biaya. Mercedes-Benz mengakui bahwa tekanan ekonomi tetap berpotensi membuat sebagian konsumen menunda transaksi. Namun, daya tarik produk premium dinilai tidak berhenti pada aspek utilitas, melainkan juga pada nilai aspiratif dan kedekatan emosional yang telah terbangun dalam jangka panjang. Donald menjelaskan, ketika keterikatan emosional dengan merek sudah terbentuk, keputusan pembelian kerap didorong oleh rasa kecintaan dan aspirasi, bukan semata pertimbangan ekonomi jangka pendek. Pengalaman Konsumen Untuk menjaga minat pasar, Mercedes-Benz Indonesia tidak hanya mengandalkan kekuatan produk. Pabrikan asal Jerman tersebut juga menekankan pentingnya pengalaman menyeluruh bagi calon konsumen, terutama di tengah sikap pasar yang kini lebih selektif. Mulai dari proses eksplorasi kendaraan, pemilihan warna, hingga penentuan spesifikasi, Mercedes-Benz berupaya menghadirkan pengalaman personal, khususnya untuk model-model kelas atas. Pendekatan ini diharapkan mampu memperkuat relasi jangka panjang antara konsumen dan merek. “Ketika koneksi emosional itu sudah terjalin, faktor lain menjadi tidak dominan. Keinginan dan kecintaan terhadap merek mendorong konsumen untuk membeli berdasarkan emosi,” kata Donald. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang