Mobil listrik memiliki sejumlah karakteristik yang membuatnya berbeda dari kendaraan konvensional, salah satunya dalam hal pengereman dan kestabilan saat melintasi tanjakan maupun turunan panjang. Pendiri EVSafe dan Dosen di National Battery Research Institute (NBRI) Mahaendra Gofar mengatakan, teknologi pengereman regeneratif atau regenerative braking dapat membantu pengemudi mengontrol laju kendaraan sekaligus mengembalikan energi ke baterai. “Pengereman regeneratif memberikan kontrol lebih baik di tanjakan dan turunan panjang, sekaligus sambil mengisi ulang daya baterai,” kata Gofar kepada Kompas.com, belum lama ini. Berbeda dengan mobil konvensional yang mengandalkan sistem pengereman mekanis, regenerative braking pada mobil listrik memanfaatkan motor listrik untuk membantu memperlambat laju kendaraan ketika pedal akselerator dilepas. Chery J6T Energi yang muncul saat kendaraan mengalami deselerasi tersebut kemudian dikonversi menjadi energi listrik dan disimpan kembali ke baterai. Menurut Gofar, sistem tersebut memberikan keuntungan ketika mobil listrik melewati jalan menurun dalam jarak yang panjang. Pengemudi tidak perlu terlalu sering menginjak pedal rem untuk menjaga kecepatan kendaraan. Kondisi ini juga dapat membantu mengurangi risiko rem mengalami panas berlebih atau brake fading akibat penggunaan rem secara terus-menerus. Selain pengereman regeneratif, karakteristik mobil listrik dengan pusat gravitasi yang rendah turut mendukung kestabilan kendaraan. Posisi baterai yang umumnya berada di bawah lantai kabin membuat bobot kendaraan tersebar lebih rendah dan relatif merata. “Pusat gravitasi rendah berkat baterai di bawah lantai membuat stabilitas dan handling mobil listrik lebih baik,” kata Gofar. Keunggulan tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung penggunaan mobil listrik ketika melewati jalur pegunungan, terutama jalan yang memiliki banyak tikungan.