Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) membuat sebagian pemilik kendaraan mulai mengubah kebiasaan mengisi bahan bakar. Jika sebelumnya rutin menggunakan Pertamax, maka kini ada yang memilih turun kelas ke Pertalite karena selisih harga yang dianggap cukup terasa. Sebagai informasi, saat ini Pertamax dibanderol dengan harga Rp 15.950, sementara Pertalite dijual Rp 10.000. Meski begitu, keputusan menggunakan BBM dengan oktan lebih rendah bukan tanpa pertimbangan. Sejumlah pemilik mobil mengaku sebenarnya masih memiliki kekhawatiran terhadap performa mesin, mulai dari tarikan yang terasa berbeda hingga potensi munculnya kerak dalam jangka panjang. Namun, faktor harga akhirnya menjadi alasan utama mereka tetap memilih Pertalite. Salah satunya Fitra, pemilik Suzuki XL7 2023 asal Depok. Ia mengatakan, kenaikan harga Pertamax membuat dirinya lebih sering mengisi Pertalite karena perbedaan harga yang cukup jauh. “Karena Pertamax naik jadi saya sering isi Pertalite, harganya selisih jauh,” kata Fitra kepada Kompas.com, Jumat (4/9/2026). Tarikan Berubah, tapi Harga Jadi Pertimbangan Fitra mengaku sebenarnya ada kekhawatiran ketika menggunakan Pertalite untuk mobilnya. Salah satunya terkait performa kendaraan yang terasa berbeda dibanding saat memakai Pertamax. “Ada sih, soalnya tarikan juga sebenarnya berasa. Tapi ya mikirnya Pertamax kita juga kurang (kualitasnya) dibanding swasta, jadi ya sudah pakai Pertalite sekalian saja,” ujarnya. Ilustrasi bengkel mobil yang melakukan uji emisi kendaraan Untuk menjaga kondisi mesin, Fitra memilih melakukan perawatan tambahan. Pada sepeda motor miliknya, ia terkadang menggunakan cairan pembersih karburator yang dicampurkan bersama bensin untuk membantu membersihkan kerak. Sementara untuk mobil, ia masih mengandalkan perawatan rutin. “Kalau mobil masih sebatas jangan telat ganti oli, soalnya belum tahu cairan carb cleaner ada juga atau enggak yang buat mobil,” katanya. Meski lebih sering menggunakan Pertalite, Fitra juga sesekali mencampur dengan BBM lain. “Sama kadang ya diseling sama swasta atau enggak pakai Pertamax Green sekalian, bedanya dikit sedikit sama Pertamax,” ucapnya. Tak Terlalu Khawatir Karena Mobil Jarang Dipakai Hal serupa juga dilakukan Delina, pemilik Honda Brio 2020 asal Jakarta Barat. Ia mengaku pernah beberapa kali berpindah jenis BBM, mulai dari Pertamax, Pertalite, hingga BBM dari merek swasta. “Sempat pakai Pertamax, terus ganti Pertalite, Pertamax lagi, dan sekarang pakai Pertalite,” kata Delina. Sebelumnya, Delina juga sempat beralih ke BBM swasta setelah muncul isu mengenai kualitas Pertamax. Honda Brio RS facelift “Dulu pas dibilang Pertamax enggak murni juga sempat pindah ke swasta Vivo. Vivo-nya langka balik lagi ke Pertamax, terus Pertamax naik ya balik ke Pertalite,” ujarnya. Meski kini menggunakan Pertalite, Delina mengaku tidak terlalu khawatir terhadap kondisi mesin mobilnya. Alasannya, Honda Brio miliknya tidak digunakan setiap hari dan jarak tempuh harian juga relatif pendek. “Kebetulan mobil memang tidak dipakai setiap hari, dan kalaupun sehari-hari jarang pergi yang jauh, servis juga rutin, jadi enggak terlalu worry,” katanya. Pilih Pertalite karena Dianggap Paling Terjangkau Sementara itu, Dhea, pemilik Toyota Rush 2022 asal Depok, juga memilih beralih dari Pertamax ke Pertalite karena alasan harga. “Dulu sempat pakai Pertamax, tapi karena mahal pakai Pertalite. Lagi pula tidak ada bedanya sih, Pertamax juga sempat dicampur air. Jadi mau enggak mau ya pakai Pertalite aja, karena in this economy itu yang paling murah,” ujarnya. Bagi sebagian pemilik kendaraan, biaya operasional menjadi pertimbangan utama saat harga BBM mengalami perubahan. Meski mengetahui adanya perbedaan karakteristik antara BBM beroktan lebih tinggi dan lebih rendah, faktor pengeluaran harian membuat mereka memilih opsi yang dianggap lebih ramah kantong. Namun, pemilik kendaraan tetap perlu memperhatikan spesifikasi mesin sebelum menentukan jenis BBM yang digunakan. Pasalnya, penggunaan BBM dengan angka oktan yang tidak sesuai rekomendasi pabrikan dapat berpengaruh terhadap performa dan efisiensi mesin dalam jangka panjang.