Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) menilai penyaluran insentif pembelian motor listrik akan lebih efektif jika pemerintah menyiapkan program secara matang dan menjalankannya sejak awal tahun. Public Relation & Event Executive Aismoli Riniwaty Sinaga mengatakan, pelaksanaan program pada tahun depan memberikan waktu lebih panjang bagi pemerintah untuk menyiapkan mekanisme penyaluran, termasuk menentukan sasaran penerima manfaat. "Jadi kalau punya waktu untuk menyiapkan tadi, analisa dampaknya kan lebih bagus," kata Riniwaty saat ditemui di Jakarta, dikutip Senin (23/8/2026). Ada subsidi motor listrik dari Yadea selama Jakarta Fair 2023 Menurut dia, rencana penyaluran insentif yang baru dimulai pada September 2026 berpotensi kurang optimal. Pasalnya, program bantuan pemerintah membutuhkan sejumlah proses administrasi, baik pada awal maupun akhir tahun anggaran. Di sisi lain, pelaku industri juga membutuhkan waktu untuk mengomunikasikan program tersebut kepada konsumen. Waktu pelaksanaan yang pendek dikhawatirkan membuat masyarakat tidak memiliki cukup kesempatan untuk memanfaatkan insentif. Peluncuran program Motor Listrik Nasional (Molinas) oleh Presiden RI Prabowo Subianto Kepastian Waktu Riniwaty mencontohkan, setelah program diumumkan, industri masih harus melakukan sosialisasi kepada konsumen. Jika proses tersebut memakan waktu, masyarakat bisa baru mengetahui adanya insentif ketika kuota hampir habis. "Saya rasa sih kalau September lebih baru dijalankan rasanya enggak efektif. Pada saat nanti mereka sudah tertarik, tahunya kuotanya sudah ditutup karena sudah mau selesai akhir tahun," ujar Riniwaty. Aismoli pun mendorong pemerintah memberikan kepastian waktu pelaksanaan. Menurut Riniwaty, setelah kebijakan diumumkan, program idealnya bisa langsung berjalan atau paling lambat dalam waktu satu hingga dua bulan. Harga Motor Listrik Nasional (Molinas) ditargetkan mulai Rp18 juta. Pemerintah menyiapkan produksi massal hingga 1 juta unit per tahun. "Makanya kami selalu bicara kepastian. Jadi pada saat diumumin kalau bisa besok sudah bisa dijalankan. Kalau pun selambat-lambatnya sebulan dua bulan itu sudah langsung jalan," katanya. Ia juga menilai kesinambungan program perlu diperhatikan. Jika insentif berhenti pada akhir tahun dan kembali membutuhkan proses penganggaran pada tahun berikutnya, industri dapat menghadapi jeda dalam penyaluran. Keseruan pengunjung Jakarta Fair 2023 yang mencoba melakukan cek penerima subsidi motor listrik Rp 7 juta dari pemerintah Anggaran Rp 3 Triliun Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut pemerintah telah menyiapkan anggaran Rp 3 triliun untuk program insentif pembelian motor listrik. Besaran bantuan yang disiapkan mencapai Rp 3 juta untuk setiap unit motor listrik. Purbaya menjelaskan, anggaran tersebut mempertimbangkan kemungkinan kuota program tahun ini tidak terserap seluruhnya. Pemerintah juga memperhitungkan kapasitas produksi motor listrik nasional yang saat ini dinilai belum mampu mencapai 1 juta unit per tahun. "Iya itu programnya, jadi 1 juta itu pasti enggak habis tahun ini kan kalau kita lihat. Kalau enggak salah masing-masing insentif Rp 3 juta," kata Purbaya di Jakarta, Kamis (20/8/2026). Presiden RI Prabowo Subianto meninjau fasilitas produksi Molinas di PT ALVA serta pameran sejumlah motor listrik buatan dalam negeri di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/8/2026) Menurut Purbaya, kapasitas produksi sejumlah produsen masih berada pada level puluhan ribu unit. Ia memperkirakan produksi nasional hingga akhir tahun bisa berada di kisaran 100.000 unit. "Kapasitas produksi motor nasional belum sampai 1 juta kan, ada yang cuma 20.000 saya pikir paling 100.000 sampai akhir tahun. Jadi nanti saya pikirkan apa bisa ditambah," ujarnya.