JAKARTA, KOMPAS.com - Meski puncak arus balik Lebaran sudah terlewati, pergerakan kendaraan dari daerah ke perantauan masih tinggi. Sebagian pemudik memilih pulang belakangan untuk menghindari kepadatan, namun kondisi ini tetap berisiko memicu kemacetan. Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana mengatakan, arus mudik dan balik sebenarnya sulit diprediksi. “Sebenarnya arus mudik dan balik tidak bisa diprediksi, ada toleransi tiga sampai lima hari pasca-Lebaran yang harus diwaspadai dengan adanya arus balik,” ujarnya kepada Kompas.com, Rabu (25/3/2026). Sony menambahkan, banyak pemudik yang sengaja pulang setelah puncak arus balik dengan harapan terhindar dari macet. Namun, kondisi ini justru bisa memunculkan kepadatan baru karena pola pikir yang sama di kalangan pengguna jalan. Arus lalu lintas di ruas Tol Jakarta–Cikampek dari atas jembatan Lagoon, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, terpantau ramai lancar saat arus balik mudik Lebaran 2026, Rabu (25/3/2026). “Tips mengemudinya sama saja, jaga kesehatan dan jaga fokus dengan tidak memaksakan diri, juga jangan lupa istirahat berkala,” kata Sony. Ia menjelaskan, istirahat yang cukup penting untuk menjaga emosi tetap stabil selama perjalanan. Dengan begitu, pengemudi bisa memiliki toleransi lebih tinggi terhadap kondisi lalu lintas yang dinamis. Sony juga mencontohkan pengalaman perjalanan yang menunjukkan pentingnya fleksibilitas dalam memilih rute. Rute favorit biasanya macet, bisa cari alternatif supaya bisa lebih menikmati perjalanan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang