JAKARTA, KOMPAS.com - Mudik Lebaran identik dengan perjalanan panjang yang sering kali memakan waktu jauh lebih lama dari kondisi normal. Masyarakat diimbau memahami bahwa lonjakan volume kendaraan membuat durasi perjalanan sulit diprediksi. Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu mengatakan, fenomena long driving hours atau mengemudi dalam waktu yang lama saat mudik bukan hal baru. Arus lalulintas kendaraan pemudik masih tersendat di KM 130-110 Tol Cipali Akibat Banyaknya Kendaraan Berhenti di bahu jalan( FOTO : KOMPAS com / Ahya Nurdin) “Tantangan ini sudah sangat klasik, lebih dari 20 tahun lalu pun sudah dihadapi oleh para pemudik, yang mana perjalanan normal tiga jam menjadi enam jam atau sembilan jam,” kata Jusri kepada Kompas.com, Kamis (19/3/2026). Menurut dia, pemudik seharusnya menjadikan pengalaman masa lalu sebagai pembelajaran. Jika masih terkejut dengan lamanya perjalanan, berarti belum menyesuaikan dengan ekspektasi. “Kalau para pemudik menghadapi situasi ini dan berkeluh kesah, berarti kan konyolnya ada di mereka,” ujar Jusri. Ia menyarankan pemudik untuk tetap tenang saat menghadapi kemacetan panjang. Selain itu, pemilihan rute juga menjadi faktor penting untuk menghindari kepadatan ekstrem. “Cari rute-rute tidak favorit, rute-rute tengah dan lain-lain,” ucap dia. Jusri menjelaskan jalur favorit seperti Pantura, tol, dan jalur selatan kini menjadi titik konsentrasi kendaraan. Alternatif lain yang mungkin lebih jauh secara jarak justru bisa lebih cepat ditempuh. “Jarak tempuh mungkin semakin panjang, tetapi waktu tempuh karena volume jalan tidak separah jalur favorit, dengan demikian kita akan aman-nyaman,” kata Jusri. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang